"Kami berharap adanya Bioskop syariah, dimana masyarakat di Aceh bisa menikamati film film layer lebar. Selain untuk sebuah tontonan biosko syariah di Aceh nantinya juga bisa dijadikan sebagai tempat edukasi bagi Pendidikan," ujar Agus.
HABADAILY.COM - Di tengah gempuran film-film terbaru yang hits saat ini, masyarakat Aceh harus menelan pil pahit karena tidak memiliki akses untuk menikmatinya di layar lebar. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya bioskop di wilayah tersebut.
"Kami tidak ada bioskop, kami tidak punya akses untuk menonton layar lebar. Selama ini kami hanya tahu ada film baru itu, hanya di Youtube maupun di media sosial lainnya," ungkap Agus, warga Banda Aceh, Selasa (21/05/2024).
Baca Juga:Puluhan Pelaku Ekonomi Kreatif di Aceh Ikuti Pelatihan Perfilman
Keinginan untuk menonton film di bioskop semakin terasa saat film-film populer seperti 127 Days' film layar lebar yang menceritakan tentang romantisnya pasangan suami istri, begitu juga film "Vina: Sebelum Tujuh Hari" yang saat ni menjadi viral di media sosial. Masyarakat Aceh hanya bisa menonton film tersebut melalui platform streaming atau media sosial, tanpa merasakan sensasi menonton di layar lebar.
Selain itu, film-film Indonesia yang mengangkat tema Islami pun tak bisa dinikmati secara langsung di bioskop. Hal ini menimbulkan rasa kecewa bagi masyarakat Aceh yang ingin menonton film dengan nilai-nilai positif.
Baca Juga:Mengenal Sang Maestro Rapa'i Pase 'Syehk Duad' Lewat Film
Meskipun Aceh memiliki aturan yang melarang percampuran laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, masyarakat meyakini bahwa bioskop syariah dapat menjadi solusi. Bioskop dengan pemisahan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat Aceh untuk menonton film tanpa melanggar norma agama.
"Kami berharap adanya Bioskop syariah, dimana masyarakat di Aceh bisa menikamati film film layer lebar. Selain untuk sebuah tontonan biosko syariah di Aceh nantinya juga bisa dijadikan sebagai tempat edukasi bagi Pendidikan," ujar Agus.
Kurangnya akses terhadap bioskop di Aceh menjadi sorotan utama. Hal ini menghambat masyarakat untuk menikmati film-film terbaru dan mengikuti perkembangan dunia perfilman Indonesia.
Diharapkan dengan adanya perhatian dari pemerintah dan pihak terkait, masyarakat Aceh dapat memiliki akses yang lebih mudah untuk menonton film di bioskop, seperti halnya masyarakat di daerah lain di Indonesia.
Editor: Suryadi