Kalangan tukang yang mengerjakan proyek rehabilitasi jaringan irigasi tersebut juga mengeluhkan sikap rekanan. “Berharap keuntungan sedikit dari borongan pekerjaan ini, bisa-bisa harus menjual lembu untuk membayar gaji pekerja,” kata Udin, kepala tukang.
Menurut Udin, dirinya mengerjakan proyek itu dengan sistem borong yang dihitung per kubik pekerjaan. “Tapi pihak rekanan proyek kurang memperhatikan keadaan kami pekerja. Mereka seperti tak mau tahu kondisi lapangan,” katanya.
Sesuai perjanjian awal, papar Udin, semua material bangunan diantar ke lokasi pekerjaan. “Tapi kenyataannya tidak dilakukan demikian, bila kami butuh barang, materialnya tidak ada di tempat. Batu dan semen diletakkan jauh dari lokasi pengerjaan,” keluhnya.
Dikatakannya, kondisi tersebut sangat mengurugikan pihaknya karena waktu dan tenaganya terkuras untuk mobilasasi material. “Sementara kerjaan sistem borong yang dihitung sekira Rp40.000 per kubik,” katanya.
Karena itu, lanjut Udin, dirinya harus mengurangi jumlah pekerja kerena tidak sanggup memenuhi biaya makan dan gaji harian. “Awalnya ada 13 anggota, sekarang saya kurangi menjadi 6 orang. Ini pun sudah terlalu banyak dikarenakan materialnya tidak ada di tempat,” rincinya.
Padahal, kata dia, masa pengerjaan proyek itu hampir memasuki limit. “Sesuai kontrak, masa pengerjaan tinggal beberapa hari lagi. Tapi 2 bulan lagi pun tidak siap dikerjakan, kalau rekanan tidak memperhatikan pekerja di lapangan,” pungkasnya.
KOMITMEN REKANAN