Rekanan Dituding Asal-asalan Rehab Irigasi Tanjung Raya

December 10, 2022 - 10:16
Proyek rehabilitasi jaringan irigasi di Tanjung Raya, Kecamatan Gandapura, Bireuen, yang menguras DAK Rp2.470.742.000. FOTO HABADAILY.COM

HABADAILY.COM—Rehabilitasi Jaringan Irigasi di Tanjung Raya, Kecamatan Gandapura, Bireuen, terkesan dikerjakan asal-asalan. Sejumlah titik proyek senilai Rp2,4 miliar lebih itu ambruk lagi saat dalam proses pengerjaan.

Proyek bernomor kontrak 610/14.04/SP/PK/SDA/PUPR/VII/2022 ini dilaksanakan CV Awe Beutari dengan masa pelaksanaanya 180 hari kalender terhitung sejak 5 Juli 2022. Kegitaan rehap jaringan irigasi tersebut menguras Dana Alokasi Khusus (DAK) Rp2.470.742.000 yang dialokasikan APBK Bireuen 2022 di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. 

“Sangat mengherankan proses pengerjaannya, saluran irigasi yang sedang dikerjakan ini banyak yang runtuh di sejumlah titik proyek,” kata Herman, tokoh masyarakat Tanjung Raya, Kamis (8/12/2022).   

Menurut dia, sejumlah petani sawah yang dilewati irigasi tersebut juga mempertanyakan proses pengerjaan proyek itu yang terkesan asal-asalan. “Apa memang dikerjakan asal jadi, makanya banyak yang ambruk lagi, tentu konsultan pengawas dan pihak dinas yang lebih tahu,” kata Herman. 

Menyangkut hal itu, Keuchik Tanjung Raya Tgk Mauliadi Sulaiman mengatakan dirinya pernah mendatangi pengawas lapangan. “Saya minta mereka agar segera membangun lagi beberapa area saluran yang runtuh,” katanya.

Keuchik Mauliadi menyebutkan, area suluran yang runtuh itu mencapai 8 titik. “Ini sangat meresahkan petani bila tidak segera dikerjakan, karena sebentar lagi akan memasuki masa tanam padi,” katanya.

Jaringan irigasi runtuh lagi usai dikerjakan. FOTO HABADAILY.COM

KELUHAN TUKANG

Kalangan tukang yang mengerjakan proyek rehabilitasi jaringan irigasi tersebut juga mengeluhkan sikap rekanan. “Berharap keuntungan sedikit dari borongan pekerjaan ini, bisa-bisa harus menjual lembu untuk membayar gaji pekerja,” kata Udin, kepala tukang.

Menurut Udin, dirinya mengerjakan proyek itu dengan sistem borong yang dihitung per kubik pekerjaan. “Tapi pihak rekanan proyek kurang memperhatikan keadaan kami pekerja. Mereka seperti tak mau tahu kondisi lapangan,” katanya.

Sesuai perjanjian awal, papar Udin, semua material bangunan diantar ke lokasi pekerjaan. “Tapi kenyataannya tidak dilakukan demikian, bila kami butuh barang, materialnya tidak ada di tempat. Batu dan semen diletakkan jauh dari lokasi pengerjaan,” keluhnya.

Dikatakannya, kondisi tersebut sangat mengurugikan pihaknya karena waktu dan tenaganya terkuras untuk mobilasasi material. “Sementara kerjaan sistem borong yang dihitung sekira Rp40.000 per kubik,” katanya.

Karena itu, lanjut Udin, dirinya harus mengurangi jumlah pekerja kerena tidak sanggup memenuhi biaya makan dan gaji harian. “Awalnya ada 13 anggota, sekarang saya kurangi menjadi 6 orang. Ini pun sudah terlalu banyak dikarenakan materialnya tidak ada di tempat,” rincinya. 

Padahal, kata dia, masa pengerjaan proyek itu hampir memasuki limit. “Sesuai kontrak, masa pengerjaan tinggal beberapa hari lagi. Tapi 2 bulan lagi pun tidak siap dikerjakan, kalau rekanan tidak memperhatikan pekerja di lapangan,” pungkasnya. 

KOMITMEN REKANAN

Mizanda dari CV Awe Beutari mengatakan pihaknya berkomitmen akan menyelesaikan rehabilitasi jaringan irigasi di Tanjung Raya tepat waktu, sesuai yang ditentukan dalam perjanjian kontrak, yakni akhir Desember 2022. “Proyek ini akan rampung sesuai kontrak kerja,” katanya.

Mengenai penjelasan kepala tukang, kata Mizanda, itu merupakan  penjelasan keliru yang merugikan nama baik rekanan dalam hal ini CV Awe Beutari. “Selaku rekanan sekaligus pengawas, setiap hari kami menyediakan material yang dibutuhkan pekerja untuk kelangsungan proyek dan kelancaran tukang,” katanya.

Menurut Mizanda, pihaknya juga setiap seminggu sekali tidak pernah mengelak untuk memberikan pinjaman kepala tukang. “Kami tidak pernah abai dalam memenuhi kebutuhan tukang,” katanya.

Dia menjelaskan, persoalan sebenarnya dalam pengerjaan rehabilitasi jaringan irigasi itu adalah kondisi alam yang kurang bersahabat. “Hampir sepanjang pengerjaan proyek, cuacanya tidak mendukung. Terkadang  curah hujan sangat tinggi di lokasi proyek,” katanya. 

Karena itu, dia memohon maaf kepada masyarakat setempat jika terdapat kekurangan dalam pengerjaan rehap irigasi tersebut. "Saya secara pribadi dan atas nama rekanan CV Awe Beutari akan bertanggung jawab untuk menyelesaikan proyek itu secepat mungkin,” tegas Mizanda.[]

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.