Nahrawi berharap, semua SPBE di Aceh mampu melakukan hal yang sama dengan lebih mementingkan kenyamanan penguna gas dari pada mencari keuntungan, sehingga masyarakat penguna gas benar-benar nyaman. “Kepuasan dan kenyamanan pelangan itu hal yang paling penting bagi usaha kita,” tutupnya.
Sementara itu, Sales Area Manager Aceh PT Pertamina (Persero), Sonny Indro Prabowo mengatakan jumlah tempat pengisian gas di Aceh ada 11 titik, 7 untuk LPG PSO/subsidi dan 4 untuk LPG nonsubsidi. “Jumlah distribusi gas di Aceh rata-rata 400 metrik ton per hari, dimana 330 LPG PSO dan 70 LPG non-PSO dan terdapat lebih dari 2.800 pangkalan elpiji yang melayani kebutuhan pelanggan,” sebutnya.
Selain itu, menurut sonny, meski situasi pandemi Covid-19, pangkalan tetap beroperasi normal. Pasokan pun berjalan lancar.
Menyangkut perawatan tabung elpiji, Sonny menyebutkan, ada 4 titik untuk bengkel perawatan tabung (BPT) di Aceh yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota. Kata dia, proses perawatan tabung dimulai di SPBE ketika tabung diisi ulang, ketika terjadi kondisi tidak normal, seperti kebocoran, fisik tabung yang sudah rusak, penyok atau bengkok di handle dan lainya, maka tabung tersebut dikategorikan rusak.
“Tabung rusak akan diambil oleh mitra BPT untuk diperbaiki, dan setelah diperbaiki akan dikembalikan ke SPBE sesuai catatan jumlah tabung semula. Sementara tabung yang diikategorikan sebagai tabung afkir akan dikirim ke Depot Tandem Pertamina untuk dimusnahkan,” tutupnya.[Jamal]