Begini Proses Pengisian Gas Elpiji di SPBE

Habadaily | Ekbis - October 28, 2021 - 18:56
Proses pengisian LPG di SPBE milik PT Kabersama Cipta Raya.
HABADAILY.COM | 

Ribuan tabung elpiji kosong tersusun rapi di komplek PT Kabersama Cipta Raya, Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPBE) kawasan Gampong Beuradeun, Peukan Bada, Aceh Besar.

Hari itu, Sabtu (23/10/2021), dua pekerja berdiri di sisi Universal Filling Machine (UFM) with carrousel, untuk mengawasi proses pengisian gas yang dilakukan secara otomatis. Sementara di sisi lain para pekerja mengawasi tabung yang sudah terisi dan bergerak melaju di atas rantai conveyor (chain conveyor) untuk diangkut ke dalam truk yang sudah menunggu, yang selanjutnya didistribusikan kepada para pelangan.

Beginilah keseharian para pekerja di SPBE milik pengusaha Aceh Nahrawi Noerdin. Setiap hari perusahaan ini mampu  mengisi sekitar 25 ton gas elpiji nonsubsidi. Gas elpiji tersebut diisi ke dalam tabung 12, 15, dan 50 kilogram.

Universal Filling Machine (UFM) with carrousel yang dimiliki PT Kabersama Cipta Raya, berjumlah 18 unit untuk tabung LPG 12 Kg dan Bright Gas 5,5 Kg serta 2 unit untuk LPG 50 Kg.

Pemilik PT Kabersama Cipta Raya, Nahrawi Neordin mengatakan setiap tabung yang diturunkan dari truk disusun di atas chain conveyor, melaju melintasi timbangan di bagian UFM untuk mengukur beratnya. “Setelah tabung kosong terukur beratnya, tabung tersebut melaju ke dalam lingkaran UFM dan gas kemudian akan  terisi secara otomatis. Lalu kembali melaju di atas chain conveyor dan melewati timbangan lain untuk mengukur kembali setelah pengisian,” paparnya.

Jika jumlahnya tidak sesuai, jelas Nahrawi, makan tabung berisi gas tersebut akan bergeser ke sebelah kanan UFM. Semantera yang memiliki berat sesuai takaran akan terus melaju ke sisi belakang truk penggangkut. “Semua yang kita lakukan ini agar gas epliji yang diterima pelanggan benar benar sesuai takarannya,” sebutnya.

Nahrawi Noerdin menambahkan, gas elpiji tersebut disaluran ke agen-agen di 7 dari 23 kabupaten/kota di Aceh, mulai Aceh Besar, Banda Aceh, Sabang, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya dan Aceh Barat Daya.

“Kita dijatahkan menyalurkan untuk pantai barat selatan, dan semua kita salurkan tepat waktu agar stok untuk para pelanggan selalu mencukupi,”. katanya.

Menurut Nahrawi, proses pengisian elpiji dilakukan secara teliti sehingga jumlah isian tidak berkurang, dimana setiap tabung kosong yang masuk terlebih dahulu ditimbang, dan kembali ditimbang setelah diisi. Jika ada tabung yang terisi tidak mencukupi jumlah yang sudah ditentukan, maka tabung tersebut akan bergeser secara otomatis di atas rel,” tambahnya.

Selanjut petugas memeriksa kembali penyebabnya. Jika tabung tersebut dalam kondisi rusak, maka tabung tersebut tidak digunakan lagi sebelum diperbaiki. “Kita punya tanggung jawab moral kepada masyarakat, jadi semua yang kita lakukan secara teliti, sehingga hak para pelanggan benar benar mencukupi,” ungkapnya.

Alasan tanggung jawab tersebut, Nahrawi juga membangun sebuah perbengkelan pemeliharaan tabung LPG di lokasi tersebut, yang diberi nama PT Aira Gibran Internusa.

“Setiap tabung kosong yang masuk ke SPBE, 10 persen harus kita perbaiki, dan tabung yang bermasalah langsung kita perbaiki di bengkel sendiri, . Ada juga yang tidak bisa diperbaiki lagi, akan kita kembalikan ke Pertamina. Kita tidak boleh main main dengan kwalitas tabung, karena ini kebutuhan masyarakat, tegasnya.

Nahrawi berharap, semua SPBE di Aceh mampu melakukan hal yang sama dengan lebih mementingkan kenyamanan penguna gas dari pada mencari keuntungan, sehingga masyarakat penguna gas benar-benar nyaman. “Kepuasan dan kenyamanan pelangan itu hal yang paling penting bagi usaha kita,” tutupnya.

Sementara itu, Sales Area Manager Aceh PT Pertamina (Persero), Sonny Indro Prabowo mengatakan jumlah  tempat pengisian gas di Aceh ada 11 titik, 7 untuk LPG PSO/subsidi dan 4 untuk LPG nonsubsidi. “Jumlah distribusi gas di Aceh rata-rata 400 metrik ton per hari, dimana 330 LPG PSO dan 70 LPG non-PSO dan terdapat lebih dari 2.800 pangkalan elpiji yang melayani kebutuhan pelanggan,” sebutnya.

Selain itu, menurut sonny, meski situasi pandemi Covid-19, pangkalan tetap beroperasi normal. Pasokan pun berjalan lancar.

Menyangkut perawatan tabung elpiji, Sonny menyebutkan, ada 4 titik untuk bengkel perawatan tabung (BPT) di Aceh yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota. Kata dia, proses perawatan tabung dimulai di SPBE ketika tabung diisi ulang, ketika terjadi kondisi tidak normal, seperti kebocoran, fisik tabung yang sudah rusak, penyok atau bengkok di handle dan lainya, maka tabung tersebut dikategorikan rusak.

“Tabung rusak akan diambil oleh mitra BPT untuk diperbaiki, dan setelah diperbaiki akan dikembalikan ke SPBE sesuai catatan jumlah tabung semula. Sementara tabung yang diikategorikan sebagai tabung afkir akan dikirim ke Depot Tandem Pertamina untuk dimusnahkan,” tutupnya.[Jamal]

Share: