Konferensi ICIS 2021: Menelaah Pembangunan Aceh untuk Masa Depan

October 5, 2021 - 14:47
International Conference On Islamic Studies (ICIS) 2021 yang bertema “Islam And Sustainable Development” yang diselenggarakan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh secara daring dan luring, yang berlangsung di Anjong Mon Mata, Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, Senin (4/10/2021). [ Dok. Ist]

HABADAILY.COM – Perhelatan International Conference On Islamic Studies (ICIS) 2021 yang digelar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Senin lalu (4/5/2021) mendapat apresiasi dari berbagai pihak.

Konferensi tersebut diharapkan dapat memberikan penguatan terhadap pembangunan Syariat Islam dan perdamaian di Aceh. Demikian disampaikan Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dalam sambutannya secara virtual, kemarin.

Diketahui, kegiatan itu juga diikuti secara daring oleh sejumlah tokoh nasional. Mereka adalah Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin, Presiden Republik Indonesia ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Republik Indonesia ke 10 dan 12 Jusuf Kalla, Menteri Agama dan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, serta Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN.

Selain itu, turut hadir Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh, Teungku Malik Mahmud Al-Haytar, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh, Rektor, Wakil Rektor serta seluruh Civitas Akademika UIN Ar-raniry Banda Aceh, Rektor dan Wakil Rektor PTN/PTKIN Se-Aceh, hingga Wali Kota Banda Aceh.

Konferensi bertema ‘Islam And Sustainable Development’ ini dianggap penting bagi Aceh sebagai daerah yang tengah melaksanakan syariat islam. Nova mengatakan, kontribusi pemikiran dari para keynote speaker dan peserta sangat penting diapresiasi.

“Kegiatan ini pula sekaligus menunjukkan kepada kita semua betapa besarnya perhatian semua pihak untuk keberlanjutan pembangunan dan perdamaian terutama di Aceh,” kata Nova.

Ia menambahkan, dukungan itu akan semakin mendorong Pemerintah Aceh untuk lebih kencang memacu proses pembangunan dan perdamaian di Aceh. Tema yang diusung menurutnya mampu menyajikan sebuah telaahan menarik, soal bagaimana sebenarnya kondisi Aceh paling kurang lima sampai 10 tahun mendatang.

Banyak hal yang diulas, baik masalah pembangunan bidang sosial, politik, perdamaian, syariat islam, budaya serta peradaban, termasuk juga sektor wisata hingga yang lebih spesifik, seperti masalah pendidikan era digital dan pandemi.

Besarnya cakupan pembahasan ini telah memberikan ruang kepada seluruh tokoh dan intelektual untuk tampil berbicara menurut bidang masing-masing.

“Sehingga dapat kami katakan konferensi ini merupakan bentuk dari Participatory Development dari seluruh komponen masyarakat dengan berbagai disiplin ilmu yang dimiliki,” tuturnya.

Secara khusus, Nova juga berterima kasih atas hadirnya Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, yang dikenal sebagai tokoh perdamaian dan pembangunan Aceh. Dukungan semua pihak selama 16 tahun perdamaian, kata Nova, telah membawa perubahan yang cukup besar bagi kemajuan Aceh.

Namun, perubahan tersebut juga diakui belum pada tahap memuaskan semua pihak.

“Masih banyak perubahan yang mesti terus kita lakukan. Disinilah perlunya kebersamaan dan dukungan dari semua komponen anak bangsa, mulai dari ulama, akademisi, kaum intelektual dan kelompok masyarakat sipil lainnya,” kata Nova.(*)

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.