Mawardi melanjutkan, dalam melihat kondisi iklim di Aceh, sektor pertanian selama ini banyak dibantu informasi dari Stasiun Klimatologi Aceh Besar, sehingga informasi itu menjadi rujukan untuk merencanakan kegiatan penanaman, pemupukan dan lainnya.
Namun jika hanya bergantung kepada Stasiun Klimatologi Aceh Besar, penyebaran informasi iklim tersebut dikatakan tidak bisa berjalan cepat, mengingat kawasan pertanian di Aceh sangat luas. Selain itu, ada banyak istilah di bidang cuaca yang dinilai cukup asing bagi petani.
“Maka itu, perlu upaya meningkatkan wawasan petani dalam membaca fenomena alam yang terkait dengan pertanian. Dalam hal ini, kita sangat bersyukur sebab BMKG mempunyai program untuk melatih petani dan penyuluh pertanian dalam memahami informasi tentang cuaca ini,” ujar Mawardi.
Sekolah Lapang Iklim disebut mirip dengan sekolah Lapang Pertanian yang dibentuk oleh kelompok-kelompok tani di pedesaan. Bedanya, kalau Sekolah Lapang Pertanian lebih banyak mempelajari tentang teknik bercocok tanam yang efektif dan produktif serta fokus membahas informasi cuaca.
Pembukaan sekolah tersebut oleh BMKG di Kabupaten Gayo Lues disebut merupakan langkah yang sangat tepat, mengingat Gayo Lues merupakan salah satu kawasan lumbung pertanian di Aceh.