Agam Ramadhan, mahasiswa yang juga alumni Sekolah Hak Asasi Manusia (HAM) Kontras Aceh, mengungkapkan pentingnya perhatian pemerintah untuk mengabadikan memorialisasi atas seluruh peristiwa tadi.
"Yang kita datangi tadi semuanya kasus yang menimpa tokoh penting di Aceh. Sangat kita sayangkan jika tak dibangun tugu penanda apapun untuk mengingat peristiwa itu. Bahkan seharusnya cerita ini masuk ke kurikulum sejarah di sekolah-sekolah di Aceh, supaya ini tidak dilupakan, generasu selanjutnya," ujar dia.
Manajer Program KontraS Aceh, Faisal Hadi memaparkan bahwa pembunuhan sejumlah tokoh elit di Aceh mengurai catatan tersendiri dalam rangkaian kekerasan di masa konflik silam. Tokoh akademisi seperti Dayan Dawood dan Safwan Idris berhasil memunculkan narasi alternatif terkait penyelesaian konflik di Aceh.
Pihaknya mencatat, dalam rentang awal tahun 2000-an, mulai bermunculan sosok (prominent figure) yang bersuara soal penyelesaian konflik dengan pendekatan nir-kekerasan. Suara mereka, kata Faisal, berpeluang menarik perhatian dunia internasional.
"Prof. Safwan kerap mengkritisi pendekatan represif dan militeristik dalam menghadapi benturan di Aceh, ia menyuarakan penyelesaian damai, non-violence, demikian juga aktivis seperti Jafar Siddiq Hamzah yang juga dibunuh masa itu, pandangan mereka ini yang diduga mengusik kelompok-kelompok yang bertikai," tandas Faisal. []