50 Peserta "Napak Tilas" ke Lokasi Pelanggaran HAM Masa Lalu di Banda Aceh

March 5, 2020 - 19:57
Peserta memperlihatkan sejumlah foto tokoh Aceh yang menjadi korban penembakan saat konflik masa lalu. Kegiatan napak tilas ke beberapa lokasi pelanggaran HAM ini diadakan KontraS Aceh dan Asia Justice and Right (AJAR), Kamis (5/3/2020).
2 dari 3 halaman

Selanjutnya peserta menuju lokasi bekas Lembaga Pemasyarakatan (LP) di Keudah, kecamatan Kuta Alam. Di kawasan yang kini hanya menyisakan tanah kosong itu pernah ditahan sejumlah Tapol/Napol dari kalangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan aktivis HAM Aceh.

Kemudian napak tilas berlanjut ke Jalan T Nyak Arief, Lampineung. Di kawasan itu pernah terjadi peristiwa penembakan terhadap Prof. Dayan Dawood, Rektor Unsyiah, tepatnya pada 6 September 2001 silam. Terakhir, peserta mengunjungi bekas kediaman Rektor IAIN Ar-Raniry, Prof. Safwan Idris yang ditembak Orang Tak Dikenal (OTK) pada pagi 16 September 2000.

Ketua Himpunan Mahasiswa Papua-Aceh (HIMAPA), Yuspani Asemki, yang turut hadir dalam kegiatan ini mengatakan, proses perdamaian di Aceh penting untuk menjadi pembelajaran di daerah lain. Ia menggarisbawahi kearifan lokal sebagai aspek utama guna membangun interaksi antar masyarakat yang berkonflik untuk bisa berdamai.

"Setiap wilayah memiliki karakteristik masing-masing, peran adat dalam kearifan suatu wilayah mampu merekatkan kembali masyarakat, lewat itulah perdamaian perlu dirintis," kata Yuspani.

Peserta dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung, Wisnu mengapresiasi keterlibatan generasi muda Aceh di kegiatan tersebut. Menurutnya, pemuda harus giat mengintervensi ruang publik dengan acara-acara memorialisasi semacam ini.

Di berbagai wilayah lain, Wisnu mencontohkan, pemuda dan aktivis menggelar diskusi, lapak buku, aksi semisal Aksi Kamisan, yang bertujuan untuk mentransfer nilai-nilai dan kesadaran terhadap sejarah masa lalu.

"Untuk pertama kalinya saya ke Aceh, anak-anak mudanya ternyata peduli dengan sejarah konflik masa lalu mereka, terus terang saya kagum dengan hal ini. Seharusnya dibangun semacam tugu memorialisasi untuk mendukung upaya tersebut," kata dia.

Pentingnya Memorialisasi

Di sela-sela diskusi usai Napak Tilas, seorang peserta mahasiswa dari UIN Ar-Raniry mengaku baru mengetahui titik lokasi penembakan terhadap sejumlah tokoh berpengaruh di Aceh.

"Padahal kawasan ini semua sering kami lewati, seperti gerbang Mesjid Raya, lalu persimpangan Jalan T Nyak Arief, termasuk bekas kediaman Prof Safwan Idris yang terletak di dalam komplek kampus UIN, tempat kuliah kami. Saya prihatin tidak ada tanda memorialisasi apapun di semua lokasi tersebut," kata dia.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.