Nova mengungkapkan, tak hanya gempa dan tsunami mengincar Aceh, ada berbagai bencana lain juga mengancam dan sering terjadi di Aceh, seperti kebakaran hutan dan lahan, banjir bandang, banjir genangan, tanah longsor, akibat perambahan hutan, maupun kelalaian manusia dalam melestarikan lingkungan.
“Data dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh, hingga November 2019, telah terjadi sebanyak 754 kali bencana di Aceh, yang mendominasi adalah kebakaran hutan dan lahan, serta banjir. Ini bukan jumlah yang sedikit, dan seharusnya dapat dicegah,” sambung Nova.
Untuk itu, Nova mengajak semua pihak agar dapat menahan diri dari segala perbuatan merusak alam dan lingkungan, dan menjadikan peringatan tsunami sebagai momentum melahirkan perilaku yang positif, sekaligus menciptakan berbagai perubahan dalam diri, sehingga menjadi lebih kreatif dalam membangun Aceh yang lebih baik di masa depan.
Untuk diketahui bersama, upaya meningkatkan pengetahuan di bidang kebencanaan menjadi salah satu bagian yang tercantum dalam Visi Misi ‘Aceh Hebat’. Dalam program unggulan ‘Aceh Green’ yang memuat beberapa poin di antaranya melakukan langkah strategis mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, dan menerapkan manajemen risiko bencana melalui penguatan kapasitas tim tanggap darurat dan penyadartahuan masyarakat.
Karenanya, pemerintah terus menghimbau agar masyarakat dan pihak terkait di seluruh Aceh untuk membentuk komunitas-komunitas peduli bencana. Komunitas ini diharapkan bisa berperan mensosialisasikan teknik-teknik penanggulangan bencana, sehingga program mitigasi bencana dapat tersebar di tengah-tengah masyarakat.
Apresiasikan Negara Sahabat