“Terima kasih Bu Gubernur, terima kasih,” kata Azimah dan Ida Mursyita.
Sebelumnya, di jembatan Gampong Tibang Dyah Erti dan rombongan sempat berhenti, saat melihat beberapa ibu-ibu sedang merendam diri di sebuah tambak. Dyah Erti langsung turun dari mobil dan bergegas menghampiri belasan kaum ibu tersebut.
“Ibu-ibu sedang ngapain nih?” tanya Dyah Erti ramah.
“Kami sedang panen udang Bu,” jawab salah seorang Ibu. “Ini tambak milik toke Bu, kami hanya memanen saja dan mendapat upah,” timpal yang lain.
Setelah mendengarkan cerita dan keluh kesah para ibu, Dyah Erti kemudian membagikan bingkisan sembako kepada kaum ibu dan sejumlah pria yang juga bekerja di tambak tersebut.
Bersama rombongan, Dyah Erti kemudian bergerak ke ujung Jembatan Kruengg Cut untuk membagikan sembako dengan para pedagang tirom di kawasan itu. Ujung jembatan Krueng Cut memang terkenal sebagai sentra penjualan tirom dan kerang khas sungai itu. Setiap sore selalu ramai pencari tirom dan kerang menyebar di bawah jembatan Krueng Cut.
Tiba di lokasi, Dyah Erti langsung menyerahkan bingkisan sembako dan memborong beberapa bungkus tirom. Kak Ana sang pemilik lapak terlihat sangat antusias dan gembira menerima bingkisan tersebut.
“Alhamdulillah, terima kasih Bu, terima kasih telah memberi bingkisan sembako dan memborong tirom saya,” ujar wanita berusia 40 tahun itu. Senyum terlihat mengembang di bibirnya.
Tak hanya Kak Ana, semua pedagang tirom yang berjajar di ujung Jembatan Krueng Cut juga mendapatkan bingkisan sembako. Tak hanya paket sembako, barang dagangan pun habis diborong oleh Dyah Erti dan anggota BKMT Aceh lainnya.