Anggota DPR Aceh dari Fraksi Partai Aceh ini berharap semangat perjuangan Ilyas Leube dapat diteruskan saat ini. Namun, bukan berarti kalangan mantan kombatan atau masyarakat Aceh kembali mengangkat senjata.
"Semangat perang itu dapat dilanjutkan dengan ‘perang intelektual’, yaitu melalui kekhususan yang telah diberikan pemerintah pusat harus diterapkan di dalam pemerintahan secara menyeluruh,” ujar politisi asal Aceh Utara tersebut.
Dia juga berharap melalui momentum milad GAM ke-42, yang diperingati setiap 4 Desember, turut meningkatkan paradigma dan karakter keacehan di dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
“Jika kita lihat saat ini, identitas karakter ke-Acehan kita masih skala Aceh. Ke depan, kita harapkan dapat terjadi di kehidupan yang lebih luas, yaitu di pemerintahan pusat. Artinya sinergisitas antara pemerintah pusat dengan Pemerintah Aceh dapat menjawab persoalan-persoalan yang ada di Aceh. Sehingga tidak ada kemudian terjadi kesalahan persepsi atau cara pandang terhadap Aceh, di mana Aceh saat ini bertekad hidup di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jadi yang kita perjuangkan adalah kewenangan atau kekhususan yang telah diberikan Pusat (baca: Jakarta). Itu yang harus mampu kita perjuangkan, untuk kesejahteraan masyarakat Aceh,” ujar pria yang mencalonkan diri sebagai anggota DPR-RI dari Partai NasDem tersebut.
Pun demikian, Muharuddin mengakui semua hal tersebut tidak dapat dilakukan dengan mudah. Menurutnya harus ada kesamaan visi dan misi tentang paradigma keacehan dari partai-partai nasional maupun lokal yang maju memperjuangkan hak-hak rakyat.