Konfrontasi meningkat setelah Rusia merebut tiga kapal dan menangkap 24 awak kapal Ukraina, yang kemudian ditahan selama 60 hari dan menjalani persidangan di Moskow. Ukraina menyebutkan para tahanan tersebut adalah "tawanan perang" Rusia.
Sementara Rusia bersikeras bahwa pelaut Ukraina telah masuk secara ilegal ke perairan Rusia. Putin bahkan menyebutkan penjaga perbatasan Rusia berkewajiban menyita kapal tersebut sesuai tugas militer yang diemban.
Insiden ini menyebabkan Ukraina memberlakukan darurat militer di 10 dari 27 wilayahnya selama 30 hari. Tindakan ini diambil untuk mengantisipasi invasi Rusia.
Presiden Ukraina, Petro Poroshenko kepada penyiar Sky News, Jumat (30/11/2018) kemarin mengatakan, keputusan Trump untuk membatalkan pembicaraan yang telah dijadwalkan dengan Putin merupakan bukti sikap AS berpihak pada Ukraina.
"Setelah serangan kimia di Inggris, setelah serangan teror pada MH17, setelah agresi Rusia di timur negara saya, setelah Suriah, setelah semua tindakan katastrofik ini, Putin dalam isolasi," kata Petro.
Pria Rusia Dilarang Masuk Ukraina
Ukraina mulai melarang pria warga negara Rusia berusia 16 hingga 60 tahun memasuki negara tersebut sejak Jumat. Andriy Demchenko selaku juru bicara layanan perbatasan Ukraina mengatakan kebijakan tersebut bukan "blanket ban."
"Pemeriksaan terhadap warga Rusia di perbatasan akan lebih diperketat dan kunjungan mereka sebelumnya ke Ukraina akan diselidiki," kata Andriy seperti dilansir Al Jazeera. Dia menambahkan keputusan tersebut diambil setelah meneliti kasus per kasus, dengan pengecualian yang diperlukan.