Selama ini, kata Sarkawi, pemerintah daerah mengalami kesulitan untuk pengembangan Lut Kucak menjadi destinasi wisata baru di Bener Meriah. Hal ini disebabkan Lut Kucak berada di kawasan hutan lindung yang tidak boleh dikelola serampangan.
Namun, hal itu tidak menyurutkan Sarkawi untuk menjadikan Lut Kucak sebagai potensi wisata baru di Bener Meriah. Dia bahkan mengaku sudah menyurati Kementerian Kehutanan Republik Indonesia untuk menjadikan kawasan hutan lindung di sekitar Lut Kucak menjadi kawasan hutan sosial masyarakat.
Sikap ini ditempuh Sarkawi demi melestarikan Lut Kucak dan hutan lindung di sana. Setidaknya menghentikan pembalakan liar dan perubahan hutan lindung menjadi areal pertanian warga yang tandus.
"Agar bisa dikelola dengan baik, dirawat dan menjaga agar pepohonan di sana tidak ditebang oleh masyarakat. Nantinya ditanami dengan pohon berbuah, ditata sedikit, kita olah sedikit sehingga nantinya menjadi destinasi wisata yang luar biasa, orang akan ngopi di atas awan. Tidak ada di tempat lain, orang akan datang kemari sekadar ngopi di atas awan," ungkap Sarkawi.
Dia menyebutkan keberadaan danau di puncak gunung Bener Meriah tersebut tidak boleh disia-siakan. Hal ini perlu dioptimalkan untuk pengembangan wisata Bener Meriah yang bakal menjadi tulang punggung perekonomian baru, seperti proyek yang sedang digarap pemerintah Pusat.
Potensi Lut Kucak nantinya dipadukan dengan destinasi wisata lain yang ada di Bener Meriah. Dia mencontohkan Burni Telong yang sudah dikenal secara luas, kemudian wisata Arung Jeram yang juga belum terjamah serta wisata agro kebun kopi.
Dengan demikian, Sarkawi optimis orang akan datang ke Bener Meriah untuk menikmati keindahan alamnya. Hal ini juga mempermudah masyarakat setempat untuk menjual kopi dan hasil pertanian mereka.