“Karena di situlah napak tilasnya, kemudian kawasan di sekitarnya memiliki hubungan erat dengan eksistensi pusat sejarahnya dulu,” jelas Ajidar ketika dihubungi via WhatsApp.
Ia juga menambahkan bahwa, adanya makam Sultan Maulana Sayed Abdul Aziz Syah sangat penting untuk Aceh dimasa depan.
“Adanya makam Abdul Aziz Syah tersebut sangat penting untuk masa depan Aceh dalam konteks identitasnya. Pemerintah daerah perlu memperhatian serius untuk merawat makam tersebut,” tambah dosen di UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Hal ini juga disayangkan oleh Hamsal, salah seorang warga Ranto Panjang, Peureulak, Aceh Timur. Sebab menurutnya Monisa merupakan cerminan masa lalu untuk menjalankan kehidupan di masa depan.
“Sayang sekali kalau situs sejarah itu tidak dimanfaatkan lebih, karena dengan adanya sejarah, anak cucu kita bisa bercermin kepada masa lalu untuk lebih maju di masa kini dan yang akan datang,” ucapnya.
Tidak ada peninggalan sejarah berupa Candi, Arca atau lain sebagainya sebagai bukti bahwa dimasa silam terdapat kerajaan besar yang menyebarkan Islam ke seluruh penjuru Nusantara. Bekas kerajaan Islam tersebut hanya berupa gundukan tanah dan kolam yang sudah tertimpun tanah dan ditumbuhi ilalang di bawah sebuah pohon.
Dalam catatan hanya ada naskah-naskah tua, sebuah Al-qur’an bertuliskan tangan dan mata uang kerajaan Peureulak yang menjadi bukti nyata adanya kerajaan yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam Nusantara.
Menurut Ajidar, sejarah adalah identitas suatu bangsa, demikian bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Sejarah adalah catatan tentang orang-orang besar. Maka makam Abdul Aziz Syah adalah identitas muslim Aceh.[acl]