Makam Kerajaan Islam Pertama di Peureulak yang Terabaikan

June 9, 2017 - 15:58
Makam Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah di Peureulak, Aceh Timur. Eva Hazmaini
2 dari 3 halaman

Di ujung sudut kanan Monisa, tampak dari kejauhan hamparan tanah seluas kurang lebih 50 meter. Siapa yang mengira bahwa di sana terdapat makam seorang Kadi (Hakim) dan seorang panglima yang dimakamkan dalam satu lubang hingga memiliki panjang kurang lebih 6-7 meter.

Hanya bertandakan batu dan gundukan kerikil-kerikil yang memberitahukan bahwa itu merupakan makam terpanjang di Monisa. Juga ada beberapa makam lain yang terdapat di sampingnya.

Siang itu, tak ada peziarah yang datang, sebab dikata Abdullah hanya ketika Ramadan dan tahun baru Islam saja pengunjung ramai berdatangan, itupun dari luar daerah.

“Pengunjung datang saat mau bulan Ramadan, bulan syaban dan saat tahun baru Islam,” ucapnya.

Monisa sendiri terletak di Bandar Khalifah, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. Awal pertama masuknya Islam di Nusantara dimulai dari datangnya Pangeran Salman yang merupakan putra Mahkota Dinasti Sassanid dari Persia yang kemudian menikah dengan Puteri Jelita dari Istana Negeri Jeumpa, Puteri Mayang Selundang.

Lalu pangeran Salman dan istrinya pergi ke Negeri Peureulak dan tinggal di sana bersama Meurah Peureulak. Hingga ketika Meurah Peureulak wafat, rakyatpun mengangkat Pangeran Salman menjadi Meurah Peureulak yang baru.

Ketika masyarakat Peureulak beserta rajanya telah memeluk Islam secara resmi. Datanglah rombongan armada dakwah dari Arab yang dipimpin oleh Khalifah Harunnurasyid dan salah satu diantaranya adalah Sayed Al Al Muktabar bin Saidina Muhammad Al Baqir bin Saidina Ali Muhammad Zainal Abidin bin Saidina Husain bin Saidina Ali bin Abi Thalib.

Kemudian Sayed Ali Al  Muktabar menikah dengan putri Makdum Tansyuri dari Istana Kemaharajaan Peureulak. Dari penikahan inilah lahir seorang putra bernama Sayed Maulana Abdullah Aziz Syah yang kini menjadi raja pertama yang menyebarkan melalui kerajaan.

Hingga kini 12 abad telah berlalu, hanya tinggal cerita dan peninggalan sejarah yang tertinggal di pelupuk mata. Pemerintah juga telah berusaha untuk membangun kembali sejarah-sejarah Islam Aceh yang selama masa penjajahan Belanda diselewengkan dari kenyataan dan kebenaran sejarah itu sendiri. Maka dari itu, Departemen Agama mencoba mengembalikan kebenaran sejarah Islam di Indonesia melalui seminar-seminar sejarah Islam.

Namun kehebatan sejarah lahirnya Monisa belum bisa menandingi situs-situs sejarah lainnya. Monisa masih jauh dari perhatian masyarakat sebagai situs sejarah awal masuknya Islam ke Aceh.

Menurut Ajidar Matsyah, penulis buku ‘Jatuh Bangun Kerajaan Islam di Aceh’, bahwa Monisa sangat layak masuk dalam cagar budaya, karena di situlah awal mula penyebaran Islam dimulai dan kawasan sekitarnya juga memiliki hubungan yang erat.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.