Untuk membungkus tempe, ia menggunakan daun coklat yang didapatnya dari pohon tetangga. Sebagai imbalan, ia menukar daun coklat dengan tempe yang sudah jadi.
"Pembungkus daun coklat minta sama tetangga nanti kasih tempe untuk dia, kalau dulu pakai daun jati begitu juga tapi sekarang karena daun jati sudah susah cari makanya pakai daun coklat,” ungkapnya.
Warti, warga desa Mata Ie, kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur ini berkeliling desa dengan berjalan kaki untuk menjajakan daganganya. Biasanya ia berjalan hingga ke desa Benteng, Lorong harapan dan Desa Bukit Pala.
Dalam satu bungkus tempe dibandrol harga Rp. 1000. Tak khayal apabila dalam satu kali berjualan ia hanya mendapatkan Rp. 30.000. "Kalau orang tau enaknya tempe ini ya tetap beli yang ini, kalau orang sukanya yang plastik ya belinya yang plastic,” pungkas Warti.
Uang hasil keringatnya itu dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Terkadang anak yang tinggal bersamanya sering meminta uang untuk membeli kebutuhan yang sudah habis. "Kalau pulang bawa uang Rp.15.000 gitu, anak minta beli sabun, enggak ada sabun, kadang mak enggak ada gula,” jelasnya.
Anak memang sudah menikah keduanya, namun anak lelakinya hanya bekerja sebagai penderes getah karet milik orang. Dalam satu kilogram hanya dihargai Rp. 3.500, itu pun harus dibagi dua lagi dengan pemilik kebun. Maka dengan berjualan tempelah bisa sedikit membantu ia bersama keluarga meringankan beban hidup.