HABADAILY.COM – Keringat menetes di sela-sela jilbab hitam yang digunakannya. Di belakang punggungnya, menggendong dagangannya seberat 50 kilogram. Kulit wajahnya sudah berkerut, menandakan wanita ini sudah lanjut usia.
Satu ke rumah lainnya, ia langkahkan kaki dengan tertati-tatih untuk menjajakan dagangannya kepada penduduk setempat. Satu pintu rumah ke pintu rumah lainnya dia ketuk menawarkan tempe dari pagi menjelang senja tanpa mengenal lelah.
Dia adalah Warti (63), seorang ibu menggantungkan hidupnya dari bungkusan tempe daun. Pekerjaan ini pun sudah dia lakoni sejak tahun 2002 silam, semenjak suaminya meninggal dunia.
Awalnya ia hanya melihat temannya membuat tempe dan lama kelamaan ia pun tertarik untuk melakukan hal yang serupa untuk menambah pundi-pundi rupiah untuk keluarganya.
Dalam 1 kilogram kacang kedelai, ia bisa membuat sebanyak 25 bungkus tempe dan ia membuatnya 2 kali dalam seminggu. Sekali ia produksi menghabiskan 5 kilogram kacang dan pada hari pecan ia bisa menghabiskan 6-7 kilogram kedelai.
"Satu minggu buatnya dua kali, hari Rabu biasanya 5 kilo kalau hari Sabtu 6 atau 7 kilo karena hari pecan,” kata Warti pada Habadaily.com beberapa waktu lalu.
Untuk membungkus tempe, ia menggunakan daun coklat yang didapatnya dari pohon tetangga. Sebagai imbalan, ia menukar daun coklat dengan tempe yang sudah jadi.
"Pembungkus daun coklat minta sama tetangga nanti kasih tempe untuk dia, kalau dulu pakai daun jati begitu juga tapi sekarang karena daun jati sudah susah cari makanya pakai daun coklat,” ungkapnya.
Warti, warga desa Mata Ie, kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur ini berkeliling desa dengan berjalan kaki untuk menjajakan daganganya. Biasanya ia berjalan hingga ke desa Benteng, Lorong harapan dan Desa Bukit Pala.
Dalam satu bungkus tempe dibandrol harga Rp. 1000. Tak khayal apabila dalam satu kali berjualan ia hanya mendapatkan Rp. 30.000. "Kalau orang tau enaknya tempe ini ya tetap beli yang ini, kalau orang sukanya yang plastik ya belinya yang plastic,” pungkas Warti.
Uang hasil keringatnya itu dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Terkadang anak yang tinggal bersamanya sering meminta uang untuk membeli kebutuhan yang sudah habis. "Kalau pulang bawa uang Rp.15.000 gitu, anak minta beli sabun, enggak ada sabun, kadang mak enggak ada gula,” jelasnya.
Anak memang sudah menikah keduanya, namun anak lelakinya hanya bekerja sebagai penderes getah karet milik orang. Dalam satu kilogram hanya dihargai Rp. 3.500, itu pun harus dibagi dua lagi dengan pemilik kebun. Maka dengan berjualan tempelah bisa sedikit membantu ia bersama keluarga meringankan beban hidup.
Kondisi tubuhnya pun kini sudah tak sesehat dulu. Ia tengah mengidap penyakit gula kering sehingga terkadang merasa pening dan lebih cepat lelah.
"Saya ada sakit gula kering. Tapi enggak dirawat karena enggak ada biaya, kadang kalau jalan terasa pitam gitu,” ungkapnya lirih.
Namun dengan kondisi yang sekarang ini ia masih bisa berjalan untuk menawarkan tempe dagangannya pada orang-orang, meskipun harus bersaing dengan tempe plastik.[acl]