Kisah Penjual Tempe Mulai Sakit-sakitan

March 6, 2016 - 18:25
Warti (63), seorang ibu menggantungkan hidupnya dari bungkusan tempe daun. Eva Hazmaini A
1 dari 3 halaman

HABADAILY.COM – Keringat menetes di sela-sela jilbab hitam yang digunakannya. Di belakang punggungnya, menggendong dagangannya seberat 50 kilogram. Kulit wajahnya sudah berkerut, menandakan wanita ini sudah lanjut usia.

Satu ke rumah lainnya, ia langkahkan kaki dengan tertati-tatih untuk menjajakan dagangannya kepada penduduk setempat. Satu pintu rumah ke pintu rumah lainnya dia ketuk menawarkan tempe dari pagi menjelang senja tanpa mengenal lelah.

Dia adalah Warti (63), seorang ibu menggantungkan hidupnya dari bungkusan tempe daun. Pekerjaan ini pun sudah dia lakoni sejak tahun 2002 silam, semenjak suaminya meninggal dunia.

Awalnya ia hanya melihat temannya membuat tempe dan lama kelamaan ia pun tertarik untuk melakukan hal yang serupa untuk menambah pundi-pundi rupiah untuk keluarganya.

Dalam 1 kilogram kacang kedelai, ia bisa membuat sebanyak 25 bungkus tempe dan ia membuatnya 2 kali dalam seminggu. Sekali ia produksi menghabiskan 5 kilogram kacang dan pada hari pecan ia bisa menghabiskan 6-7 kilogram kedelai.

"Satu minggu buatnya dua kali, hari Rabu biasanya 5 kilo kalau hari Sabtu 6 atau 7 kilo karena hari pecan,” kata Warti pada Habadaily.com beberapa waktu lalu.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.