HABADAILY.COM – Namanya Raja. Saban hari hidup diantara debu dan asap. Pada setiap kenderaan berlalu lalang, ia mengantungkan masa depan. Usai pulang sekolah, maka jembatan di Gampong Beusa, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur tujuannya.
Di trotoar jembatan, Raja menghabiskan waktu. Ia bocah setia. Muhammad Amin, kakeknya tercinta telah lanjut usia, bahkan tujuh tahun lewat dari batas usia Nabi Muhammad wafat. Sementara Raja, belum genap berumur sebelas tahun.
Bagi Amin, Raja adalah segalanya. Terkadang, cucunya itu jadi tongkat hidup yang mengarahkan jalannya. Amin tuna netra. Dilain waktu, Raja temannya bercengkrama sambil menanti penderma.
Lima belas tahun sudah Amin menjadi peminta-minta. Usia telah merengut tenaga dan penglihatannya, hingga, tak ada pilihan selain menanti sedekah. Pria yang lahir usai tiga tahun Indonesia merdeka ini, tidak sebatangkara, ia memiliki delapan orang anak.
Enam anaknya telah berkeluarga, tapi serba kesulitan menyelimuti anak-anak Amin. Hingga memilih trotoar jembatan sebagai labuhan harapan. Amin tak ingin membebani. “Jangankan untuk saya, untuk dirinya sendiri tidak jelas,” katanya dalam bahasa Aceh.