Pagelaran ini juga didukung oleh tokoh tokoh ahli, di antaranya Khairul Anwar, dan Zulkifli sebagai konsultan acara sekaligus narasumber bedah karya, serta Dr. Dedy Afriadi, yang bertindak sebagai pembahas akademisi.
Penyajian "Nan Wuli" melalui kolaborasi musik, tari, dan puisi dinilai sebagai sebuah terobosan segar. Sedangkan segmen ini sengaja dipilih karena belum banyak yang mengeksplorasi konsep serupa, sekaligus sebagai medium untuk membuka ruang kesadaran masyarakat tentang pentingnya keharmonisan.
"Lebih dari sekadar tontonan, "Nan Wuli" diharapkan mampu menyambung tali silaturahmi, sehingga cita-cita membangun masyarakat inklusif di Aceh dapat teraktualisasi, baik di masa kini maupun di masa mendatang," harapnya.