HABADAILY.COM - Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh memegang peran strategis saat provinsi ini menghadapi bencana banjir dan longsor, yang menjadi garda terdepan dalam menjaga kelancaran jalur logistik dan aksesibilitas kawasan terdampak.
Melalui UPTD Pelabuhan Penyeberangan Wilayah I Ulee Lheue, pemerintah Aceh mengambil langkah taktis untuk memastikan konektivitas tidak terputus.
Salah satu kebijakan yang paling dirasakan manfaatnya adalah penyediaan armada laut sebagai moda transportasi alternatif.
Seperti mengarahkan armada, KMP Aceh Hebat 2, KM Malahati, KN Antares, KN Purworejo, Kapal Cepat Express Bahari 2F, serta dua kapal roro tambahan (KMP Wira Louisa dan KMP Wira Samaeri).
Kapal-kapal ini difungsikan untuk mengangkut kebutuhan mendesak seperti mobil skidtank dan gas LPG guna mengatasi kelangkaan akibat putusnya jalur darat.
Kepala UPTD Pelabuhan Ulee Lheue, Husaini, menegaskan komitmen pemerintah dalam membantu warga yang terdampak.
“Seluruh tiket pelayaran dalam misi tanggap darurat tidak dipungut biaya. Masyarakat dapat mendaftar melalui pelabuhan setempat,” kata Husaini, Jumat (13/02/2026).
Komitmen Dishub Aceh dalam digitalisasi layanan membuahkan hasil pada Anugerah Inovasi Aceh 2025. Dengan total sembilan inovasi, Dishub Aceh menjadi salah satu perangkat daerah paling produktif di lingkungan Pemerintah Aceh.
Adapun sembilan aplikasi unggulan tersebut diantaranya, Trans Koetaradja, Vessel, Infokeu, E-Survey, Donorhub, Simpel Link, Sikotakbiru, Serupa, dan Trans Kampus.
Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, menyatakan bahwa inovasi kini telah menjadi budaya kerja.
"Kami mendorong ASN untuk terus berinovasi dari hal kecil guna meningkatkan kualitas pelayanan publik, terutama melalui semangat ‘Trans Koetaradja untuk Semua’ yang inklusif bagi penyandang disabilitas," ujarnya.
Semenara itu, menuju tahun kedua pemerintahan Mualem - Dek Fadh, tantangan geografis dan risiko bencana tetap menjadi fokus utama.
Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun, mengingatkan agar seluruh SKPA terus bekerja selaras dengan RPJMA 2024–2029.
"Transportasi yang andal, responsif, dan adaptif diharapkan terus menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi serta stabilitas sosial demi mewujudkan Aceh yang lebih maju dan sejahtera," tutupnya.
Editor: Suryadi