Bhoi Morica, Inovasi Mahasiswa USK Raih Tiga Penghargaan di KIWIE 2025 Korea Selatan
HABADAILY.COM - Mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala (USK) lewat Inovasi mereka, "Bhoi Morica," berhasil meraih tiga penghargaan bergengsi di ajang Korea International Women’s Invention Exposition (KIWIE) 2025.
Bhoi Morica adalah inovasi kue tradisional Aceh yang dibuat dari daun kelor dan biji pepaya. Kompetisi ini digelar di Korea International Exhibition Center (KINTEX), Korea Selatan.
Ajang KIWIE 2025 diikuti oleh 445 penemuan dari Korea Selatan dan 312 penemuan dari 16 negara lain, termasuk 80 perusahaan internasional.
Kompetisi ini diselenggarakan oleh Korea Women Inventors Association (KWIA) dan didukung oleh berbagai lembaga, termasuk Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO).
Ketua tim, Nelli Desianti, menjelaskan bahwa produk ini dirancang sebagai solusi alami untuk mengatasi stunting dan infeksi cacingan pada balita dan ibu hamil.
"Nelli bersama Sarah Salsabil dan Putri Salsabila Rinaldi, serta dosen pembimbing A. Abdul Razak, mengembangkan produk ini karena melihat tingginya prevalensi stunting dan cacingan di Provinsi Aceh," kata Nelli, Kamis (07/08/2025).
Nelli mengaku, daun kelor dipilih karena kandungan nutrisinya yang tinggi seperti vitamin A, kalsium, zat besi, dan antioksidan. Sementara itu, biji pepaya diolah menjadi tepung dengan sifat antibakteri dan anti-cacing alami.
"Kombinasi kedua bahan ini diharapkan mampu meningkatkan gizi sekaligus menjadi anthelmintik (obat cacing) alami. Kue Bhoi dipilih sebagai basis karena merupakan pangan lokal yang kaya protein," ujarnya.
Berkat keunikan dan manfaat kesehatannya, tim USK berhasil meraih Silver Medal, Special Award, dan Special Prize. Keberhasilan ini membuktikan bahwa inovasi lokal memiliki potensi besar untuk bersaing dan diakui di tingkat global.
Tim berharap Bhoi Morica dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pangan lokal bergizi.
Mereka juga ingin inovasi ini dapat memberdayakan ekonomi masyarakat melalui produksi skala komunitas, menjadikannya solusi nyata untuk masalah stunting dan cacingan di Aceh.
Editor: Suryadi