Dalam proses mempelajari Bahasa Indonesia, Htet mengakui adanya tantangan, terutama dalam hal pengucapan dan pemahaman berbagai aksen lokal. Namun, ia justru mengapresiasi kesederhanaan struktur bahasa tersebut.
"Bahasa Indonesia itu fleksibel dan tidak terlalu rumit tata bahasanya, sehingga membuat saya lebih percaya diri untuk mengekspresikan diri," tuturnya.
Perkembangan kemampuan berbahasanya terasa signifikan ketika ia harus menulis esai budaya untuk ujian. "Awalnya sulit untuk menyampaikan ide dengan jelas, tetapi sekarang saya bisa menulis dengan lancar dan percaya diri," kata Htet.
Selain belajar, Htet juga aktif berinteraksi dengan masyarakat dan mahasiswa lokal, serta turut serta dalam berbagai perayaan budaya dan keagamaan. Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah perayaan Idul Fitri di Banda Aceh.
"Perayaan Idul Fitri di sini sangat berbeda dengan di Myanmar. Saya kagum dengan tradisi khas Aceh, seperti salam-salaman dan pertemuan masyarakat. Ini sangat memperkaya perspektif saya tentang hubungan antara agama dan budaya," ungkapnya.