HABADAILY.COM - Saat menghadiri pertemuan politiknya di Pennsylvania, mantan Presiden Donald Trump nyaris tak selamat dari upaya pembunuhan. Saat suara tembakan menyalak, Trump terlihat sontak menghindari serangan itu, dengan peluru menyerempet telinganya.
Kemudian Trump mengangkat tangan kanannya saat berupaya bangkit. Agen dinas rahasia AS dengan cepat bergegas masuk ke arena, mengerucut untuk melindungi Trump. Setelah sekitar satu menit, Trump bangkit dan mengepalkan tangannya dalam perlindungan tersebut. Posenya itu tertangkap kamera, satu potret Trump yang sangat populer saat ini.
Pria berusia 78 tahun itu tampak terluka, dengan darah menetes dari telinganya. Penembak, dengan cepat teridentifikasi. Ia seorang remaja berusia 20 tahun dari Pennsylvania. Saat kejadian itu, ia langsung ditembak oleh tim penembak jitu dinas rahasia AS yang sejak awal mengawasi kemanan event tersebut.
Media AsiaTimes memuat amatan bahwa tindakan kekerasan itu merupakan peristiwa yang berimbas besar terhadap urusan politik Amerika Serikat, meskipun bukan tanpa preseden.
Insiden ini memantik tinjauan ulang terhadap mekanisme perlindungan oleh dinas rahasia AS, terutama untuk melihat potensi kelemahan terhadap pengamanan tersebut. Temuan dari evaluasi itu harus membuahkan upaya maksimal bagi langkah-langkah keamanan bagi semua calon presiden.
Biro Investigasi Federal (FBI) memimpin penyelidikan atas penembakan itu. Namun mereka dinilai perlu menjawab pertanyaan penting dengan segera, apakah penembak itu hanya aksi tunggal? Apakah upaya pembunuhan ini bagian dari terorisme dalam negeri AS yang bermotif politik?
Insiden penembakan yang terjadi jelang Konvensi Nasional Partai Republik di Milwaukee itu diyakini berimplikasi pada keamanan yang signifikan. Padahal, persiapan keamanan untuk konvensi sejak awalnya sudah berada pada tingkatan tinggi bahkan sebelum insiden percobaan pembunuhan Trump. Peringatan preemptive juga diumumkan pada Mei lalu untuk acara Milwaukee. Konvensi tersebut telah ditetapkan sebagai acara keamanan khusus nasional.
Dalam artikelnya juga, AsiaTimes mengurai sejarah penembakan serupa yang terjadi pada pemilihan presiden di AS sejak puluhan tahun sebelumnya. Disebutkan, pemilihan di tahun 1968 dan 1972 di AS juga diguncang peristiwa penembakan.
Pada 5 Juni 1968, kandidat presiden dari Partai Demokrat, Robert F. Kennedy dibunuh setelah mengikuti rapat umum di California. Kennedy kala itu baru saja memenangkan pemilihan di California dan ditembak mati setelah menyampaikan pidato kemenangan di Hotel Ambassador, Los Angeles. Tragedi tersebut berpengaruh besar terhadap pilihan warga Amerika.
Lalu pada 5 Mei 1972, saat tengah berkampanye di Laurel, Maryland, calon presiden dari Partai Demokrat, George Wallace ditembak saat berjabat tangan dengan peserta. Wallace selamat dari upaya pembunuhan itu, tetapi dinyatakan lumpuh seumur hidup. []
Sumber: Asia Times