Gelombang Panas Naik Signifikan, Picu Krisis Pangan dan Kesehatan

July 2, 2024 - 11:32
Ilustrasi cuaca ekstrem. [Ist]
1 dari 3 halaman

HABADAILY.COM – Gelombang panas di Asia Tenggara termasuk Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan ihwal frekuensi, durasi dan magnitudonya.

Dilansir dari Tempo, pakar klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengungkap kenaikan tersebut merupakan rangkaian fakta seputar heatwave (gelombang panas) berdasarkan hasil studi terbaru yang dianalisisnya bersama tim.

Baca juga: Ini Penjelasan BMKG Tentang Cuaca Panas di Indonesia

Erma menganalisis studi gelombang panas bersama tim Riset Interaksi Atmosfer dan Variabilitas Iklim BRIN. Menurut kelompok ini, para ilmuwan di dunia menyepakati bahwa fenomena gelombang panas diartikan sebagai suhu udara yang tinggi, dengan nilai 36-38 derajat Celcius dan berlangsung minimal tiga hari berturut-turut.

"Artinya jika temperatur maksimum atau rata-rata suhu sudah melebihi ambang batas dari 36 derajat Celcius dan terjadi berturut-turut minimal tiga hari, maka dapat dikatakan ini sebagai heatwave," ujar Erma kepada Tempo, Senin (1/7/2024).

Asia Tenggara khususnya di wilayah Indonesia-Cina, kata Erma, terjadi peningkatan suhu maksimum di Thailand yang mencapai 40 derajat Celcius dan konsisten terjadi di April 2024 lalu. Sedangkan di Semenjanjung Malaya seperti Singapura, suhu maksimum tercatat 39 derajat Celcius dan konsisten terjadi di April hingga Mei 2024.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.