Baca Juga: SAFEnet: Terjadi Lonjakan Serangan Siber di Indonesia Awal 2024
Di Amerika Serikat, pemerintahan Obama mengungkapkan kasus pelanggaran data pada database Kantor Manajemen Personalia AS pada Juni 2015. Akibatnya, data nomor jaminan sosial 21,5 juta warga AS dicuri. Data lain yang dicuri termasuk data 19,7 juta orang yang telah menjalani pemeriksaan latar belakang pemerintah serta 1,8 juta lainnya, termasuk pasangan dan teman mereka.
Data sekitar 1,1 juta catatan sidik jari warga AS juga dicuri. Pelanggaran ini merupakan serangan siber terbesar yang menyerang sistem pemerintahan Amerika Serikat saat itu. Kepala Kantor Manajemen Personalia AS Katherine Archuleta mendapat kecaman dan mengundurkan diri pada Juli 2015 setelah pemeriksaan selama berminggu-minggu, dan setelah agensinya mengungkapkan bahwa pelanggaran data lebih buruk dari perkiraan banyak orang.
Contoh lainnya, pada 2015 di Jepang, sistem pensiun diretas sehingga mengekspos catatan pensiun dari 1,25 juta penggunanya. Menurut Japan Pension Service (JPS), catatan pensiun yang bocor mencakup informasi pribadi seperti ID pensiun, nama, alamat, dan tanggal lahir.
Insiden ini disebabkan oleh e-mail berisi lampiran berbahaya (malware) yang diakses dan dibuka oleh pegawai agensi tersebut. Presiden JPS Toichiro Mizushima meminta maaf dan mengundurkan diri setelah insiden ini menimbulkan kemarahan publik yang signifikan.