HABADAILY.COM - Rusia dan Korea Utara baru-baru ini mengembalikan kesepakatan yang pernah terjalin selama Perang Dingin silam, lewat pertemuan kedua pemimpin negara itu di Pyongyang yang baru saja berlangsung pekan ini.
Seperti dilansir dari Bloomberg Asia, Kamis (20/6/2024), baik Vladimir Putin dan Kim Jong Un sepakat untuk ‘saling membela’ jika salah satu dari mereka diserang pihak lain. Kesepakatan itu dipandang sebagai imbalan bagi Kim Jong Un yang menyuplai persenjataan dalam jumlah besar untuk membantu Putin dalam konflik Rusia dengan Ukraina.
Analis Soo-Hyang Choi and Jon Herskovitz dalam artikel itu menyatakan, isi kesepakatan kedua negara memang belum jelas. Namun aliansi Putin dan Kim memastikan Rusia dan Korea Utara tetap sebagai penantang tangguh bagi AS dan sekutunya.
Kedua pemimpin sepakat memberikan bantuan militer dan lain-lain jika salah satu negara mereka diserang. Kesepakatan strategis komprehensif ini mirip dengan perjanjian tahun 1961, yang ditandatangani semasa Perang Dingin, dan konon berakhir setelah runtuhnya Uni Soviet. Sejauh mana bantuan yang akan mereka berikan satu sama lain belum terjelaskan dengan rinci.
Selain itu, Putin dan Kim juga sepakat untuk bersama-sama meningkatkan kemampuan pertahanan mereka, serta memperluas kerja sama dalam perdagangan dan investasi. Tindakan itu bisa saja berbuah sanksi internasional. Perjanjian ini akan tetap berlaku tanpa batas waktu, kecuali salah satu pihak ingin menghentikannya.
Korea Utara juga disebut-sebut bisa mendapat manfaat dari aliansinya dengan Rusia, yang memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk memblokir sanksi baru. Aliansi ini memberi Kim dukungan dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai ambisi nuklirnya.