Kolaborasi Interprofesional: Kunci Menuju Pelayanan Kesehatan Berkualitas di Era Global

May 1, 2024 - 22:35
Muchrizal Fadliady, (Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Syiah Kuala). (Foto: Muchrizal Fadliady untuk Habadaily.com)

Kolaborasi Interprofesional: Kunci Menuju Pelayanan Kesehatan Berkualitas di Era Global

Oleh: Muchrizal Fadliady
(Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Syiah Kuala)

Pelayanan kesehatan di Era Global sekarang ini sangat menuntut tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas, hal ini juga berlaku untuk pelayanan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat I dan Fasilitas Tingkat Lanjutan. Salah satu penyedia layanan kesehatan tingkat pertama yang membina masyarakat khususnya bidang kesehatan ditingkat pertama adalah Puskesmas, sedangkan Fasilitas lanjutan adalah Rumah Sakit yang merupakan tempat rujukan dari Faskes I, dimana layanan yang di diberikan oleh multi disiplin ilmu. Berdasarkan seruan organisasi kesehatan dunia (WHO) yang pada tahun 2010 sudah menerapkan pendidikan dan kolaboartif interprofesional dengan judul Frame Work For Action On Interprofesional Education And Collaborative Practive yang lahir setelah konsep interprofesional education (IPE) dan interprofesional collaboration (IPC). dan sekarang ini apakah sudah berjalan dengan baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit?

Layanan kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit sudah menerapkan patient-centered care yang selalu melibatkan pasien sebagai pusat dari alur perawatan selama di Puskesmas ataupun di Rumah Sakit,  sehingga sangat membutuhkan penerapan IPC secara kompeten dan efisien untuk dapat membangun hubungan saling percaya antara tenaga kesehatan dan pasien.

Dalam penerapan IPC ini tidak berfokus hanya pada proses pendokumentasian secara terintegrasi atau lebih dikenal dengan CPPT (Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi) akan tetapi seluruh proses dalam meberikan asuhan secara kolaboratif yang dilakukan oleh Professional Pemberi Asuhan (PPA) yang terdiri dari profesi dokter, profesi perawat, profesi farmasi, profesi fisioterapi, profesi ahli gizi serta profesi professional lainnya dalam menunjang kesehatan pada pasien.

Di Indonesia, secara umum masih terjadi ketimpangan dalam layanan kesehatan yang mana salah satu organisasi sangat menonjol atau mendominasi dalam meberikan layanan kesehatan baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit dari pada profesi lain. pada dasarnya setiap PPA saling berkesinambungan dan saling keterkaitan dengan kesembuhan pasien yang sesuai dengan bidang pendidikannya masing-masing. penerapan IPC dapat terwujud  dengan baik jika seluruh PPA yang terlibat dalam penyembuhan pasien saling menuangkan keilmuan profesinalnya kepada pasien dengan mengedepankan kompetensi dan etikal keilmuannya sehingga sentral layanan kesehatan yang berpusat pada pasien dapat terlaksana dengan baik dan dapat mempercepat proses penyembuhan serta dapat meningkatkan mutu layanan kesehatan baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit. hal ini senada dengan penelitian oleh Kalista Ita, Yoga Pramana dan Argitya Righo dengan judul Implementasi interprofessional collaboration Antar Tenaga Kesehatan Yang Ada Dirumah Sakit Indonesia Pada Tahun 2021 yang menyatakan bahwa IPC dapat meningkatkan tingkat keselamatan pasien dan meningkatkan kualitas pelayanan di rumah sakit.

Bagaimana Penerapannya Di Aceh?

Bentuk kerjasama dengan profesi professional lainnya sudah mulai tercermin pada tenaga kesehatan di aceh akan tetapi masih banyak yang harus dilakukan untuk bisa meningkatkan penerapann IPC di aceh khususnya, hal ini senada dengan poenelitian yang dilakukan oleh Sri wahyuni, Nova Dian Lestari, Nurjannah dan Dedi Syahrizal dengan judul praktik dan kerjasama tim antar professional pemberi asuhan dalam implementasi interprofessional collaboration di RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh pada tahun 2021, menjelaskan kerja sama tim secara interprofessional belum efektif, PPA belum memahami konsep IPC dengan baik sehingga kerja sama tim lebih didominasi oleh profesi perawat dan dokter. dengan salah satu landasan ini semua unsur harus memperhatikan untuk terlaksannya IPC dengan baik oleh tenaga kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit yang ada di  Aceh.

Tenaga kesehatan yang merupakan sumber daya utama dalam menjalankan pelayanan kesehatan terus dituntut untuk terus melakukan upgrade ilmu dan skillnya melalui pelatihan dan pendidikan termasuk dengan Interprofesional education (IPE) yang merupakan metode pembelajaran yang interaktif dan berbasis kelompok dengan latar belakang pendidikan kesehatan yang berbeda untuk menciptakan suasana belajar yang kolaboratif untuk menciptakan praktik kolaborasi yang baik. sehingga dapat meningkatkan pemahan serta saling menghormati dengan profesi professional lainnya.

Salah satu upaya yang dilakukan dari unsur akademisi untuk meningkatkan hal ini antara lain Universitas Syiah Kuala melalui Pusat Riset Kolaborasi Ilmu Kesehatan USK yang di pimpin langsung oleh Dr. dr. Dedi Syahrizal, M.Kes yang bertujuan untuk memfasilitasi pendidikan antar profesi professional lainnya sehingga bisa terlaksana dengan baik oleh tenaga praktisi kesehatan baik di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat I dan fasilitas tingkat lanjutan.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.