HABADAILY.COM – Kementerian ESDM tengah berupaya mempercepat penggunaan energi hijau untuk pembangkit tenaga listrik. Di Aceh, pihaknya menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan, tepatnya di Kabupaten Aceh Tengah.
Saat mengunjungi PLTA Peusangan, Selasa lalu, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman Hutajulu menyampaikan bahwa pembangkit tersebut merupakan salah satu tulang punggung untuk energi hijau di Indonesia. PLTA Peusangan juga berperan penting untuk memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik di Sumatera, khususnya di Aceh.
Jisman juga mengatakan tantangan di sektor ketenagalistrikan bukan cuma soal keandalan, efisiensi dan harga listrik yang murah, namun juga masalah lingkungan yang berimbas kepada tuntutan pengelolaan emisi dan peningkatan penggunaan energi bersih.
"PLTA Peusangan ini merupakan PLTA pertama di Provinsi Aceh dan saat ini progres fisik di lapangan telah mencapai 94,7 persen yang direncanakan Commercial Operation Date (COD) unit 1 (45 MW) pada akhir 2024 dan unit 2 (43 MW) di Mei 2025," terang Jisman dalam keterangan resminya, Kamis (25/4/2024).
Ia juga menambahkan, PLTA Peusangan merupakan proyek legendaris. Pemerintah berharap pembangunan PLTA Peusangan bisa rampung tahun ini, karena dari segi pembebasan lahan, konstruksi, sudah mencapai 90 persen.
"Harapannya nanti di akhir Desember udah jadi, ini penting buat negara, PLN dan juga masyarakat. Buat negara jelas Pemerintah mendukung dekarbonisasi dan net zero emission, bagaimana kita mau mengurangi emisi di negara kita dan mensupport pengurangan emisi di dunia," terang Jisman.
Sebagai salah satu pembangkit EBT terbesar di Provinsi Aceh, PLTA Peusangan memiliki peran penting, yaitu sebagai pembangkit base load, menurunkan BPP, meningkatkan keandalan sistem, berkontribusi dalam Bauran EBT sebesar 0,61 persen untuk mencapai target bauran nasional dan dalam jangka panjang menurunkan konsumsi gas LNG di Sumatera Utara.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Mega Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero) Wiluyo Kusdwiharto menyampaikan, bahwa PLTA Peusangan ini adalah proyek PLTA terlama sepanjang sejarah.
"Dari tahun 1994 dimulai dengan pekerjaan preparasi dan sempat terhenti 1996 karena ada masalah sosial politik, kemudian lanjut tahun 2011 dan sampai 2024 progres nya sudah 94 persen," terang Wiluyo.
Wiluyo menjelaskan terkait dengan hambatan yang ada dalam pembangunan PLTA Peusangan secara teknis sudah bisa PLN tuntaskan, saat ini hanya menyelesaikan isu terkait masalah sosial. Untuk itu PLN akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan dampak dan manfaat adanya PLTA Peusangan.
"Mudah-mudahan dengan adanya support dari Ditjen Gatrik dapat mendorong PLTA Peusangan selesai tahun ini," ungkap Wiluyo.
Untuk diketahui pendanaan PLTA Peusangan saat ini di biayai oleh Pendanaan dari JICA Jepang. Dalam perencanaannya, listrik yang dihasilkan dari PLTA Peusangan akan dievakuasi melalui jalur transmisi 150 kV PLTA Peusangan 1 - Takengon dan transmisi 150 kV PLTA Peusangan 2 - Bireun dan distribusi 20 kV Takengon Utara - Takengon Selatan yang saat ini telah selesai pembangunannya. []