Menurutnya, jika panen besar para petani kopi tidak bisa diakomodir dengan daya serap pasar, akan berdampak langsung kepada memburuknya harga pasar di level petani. “Kami akan fokus menggali atau mengeksplorasi soal potensi pasar dengan harga premium pada even kopi di Negara Paman Sam itu nantinya,” tandas Maulana seraya menambahkan pihaknya tidak mau petani kopi di Tanah Gayo merasakan hal yang sama seperti tahun 2020. Dimana kala itu banyak petani menjerit.
Hal itu juga tidak lepas dari misi pengusaha muda itu, yang ingin fokus membangun industri kopi di Indonesia. Serta ingin meningkatkan kesejahteraan para petani kopi di Aceh.
Pertemuan itu juga dihadiri Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh, Almuniza Kamal SSTP MSi.[]
.