Ketua ARC Unsyiah, Syaifullah Muhammad mengatakan, selama ini Indonesia adalah pengekspor terbesar untuk tanaman nilam. Pengembangan koperasi dan UMKM berbasis nilam di Indonesia ini sangat penting kita lakukan agar nilai tambah dari produk nilam yang selama ini hanya dinikmati oleh dunia Internasional, bisa kita nikmati sendiri.
Syaifullah juga menambahkan, selama ini nilam Aceh diekspor ke Singapura, kemudian difraksinasi di Singapura, lalu diimpor kembali ke industri dalam negeri kita. Sekarang hal tersebut tidak perlu lagi kita lakukan, karena kita sudah mampu melakukannya sendiri.
“Proses inovasi teknologi yang sudah ada di Unsyiah sudah sangat memadai. Kita mampu memproses nilam dengan kemurnian yang tinggi dan bahkan bisa menghasilkan sendiri puluhan produk-produk turunan nilam,” tegasnya.
Rektor Unsyiah Prof. Samsul Rizal mengungkapkan, dalam tiga tahun ini Unsyiah telah membina dan memberikan pelatihan kepada petani nilam yang selama ini keberadaannya sudah hampir hilang di Aceh. Salah satunya mengajarkan para petani untuk memproduksi produk turunan dari nilam.
“Kita berharap kejayaan petani nilam Aceh bisa kembali terangkat melalui jalinan kerjasama yang kita kembangkan selama ini,” katanya.