“Saat itu semua keluarga memang sedang berkumpul di rumah di kawasan Lambung, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Kala itu sedang persiapan ibunda yang akan masuk asrama haji,” sebut Nahrawi.
Kondisi ini membuat Nahrawi sempat trauma dan terpuruk, sehingga memilih hijrah ke Jakarta. Sekira setahun di sana, Nahrawi kembali ke Aceh dan mencoba untuk mengaktifkan kembali usaha peninggalan ayahnya dengan sisa tabungan Rp25 juta.
Kini, Nahrawi sukses memimpin bisnis rintisan orang tuanya PT Loonmita Gah, yang bergerak di bidang dealer elpiji Pertamina sejak 1980-an. PT Loonmita Gah kembali dihidupkan sebagai anak perusahaan Pasha Jaya mulai 2005.
Sejak itu, PT Loonmita Gah mendapatkan hasil yang sangat menggembirakan. Bahkan tiga tahun berturut-turut meraih penghargaan The Best Agent of LPG dari Pertamina region I. Perusahaan ini berhasil memasarkan Liquified Petroleum Gas (LPG) 12 kg lebih dari 20 ribu tabung/bulan selama tiga tahun berturut-turut. Sehingga, PT Loonmita Gah didaulat menjadi salah satu agen LPG Pertamina terbesar di wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut).
Seiring kebijakan rayonisasi LPG yang dilakukan Pertamina, PT Pasha Jaya Group juga mendirikan tiga anak perusahaan yakni PT Nagah Beusare Jaya dan PT Noerman Group yang juga memasarkan LPG 12 kg di Aceh.
Sedangkan untuk menjalankan bisnis pemasaran LPG 3 kg di wilayah yang sama, suami Mutia Hanum ini mendirikan PT Indung Tulot Energy. Yang membanggakan, Indung Tulot Energy yang semula bernama UD Nahrawi ini, pada kuartal pertama 2011 berhasil meraih penghargaan dari Gas Domestik (Gasdom)-Pertamina sebagai 'Agen Terbaik' untuk pemasaran LPG 3 kg di Provinsi Aceh.
Ayah dari Muhammad Pasha Al Faiz, Nayra Hania Khansa dan Muhammad Pasha Athar Al-Gibran ini, kini menjabat Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) dan Gabungan Importir Seluruh Indonesia (GINSI) Aceh.