Kerja sama ini juga untuk mengefektifkan fungsi dan peran kedua belah pihak dalam memverifikasi dan validasi data, baik untuk calon mahasiswa, calon dosen, hingga civitas akademika Unsyiah. Rektor juga berharap kerja sama ini dapat berlanjut di bidang lainnya. Terlebih lagi Unsyiah memiliki banyak ahli IT yang dapat membantu Dukcapil dalam pengelolaan data, sehingga bermanfaat bagi pembangunan bangsa.
Dirjen Dukcapil Kemendagri, Prof Dr Zudan Arif Fakrulloh SH MH menyebutkan pihaknya telah menjalin kerja sama lebih 2.300 lembaga untuk penguatan big data di Indonesia. Ada beberapa kampus di Indonesia yang telah mengintegrasikan nomor identitas mahasiswanya ke dalam NIK. Unsyiah tercatat sebagai universitas pertama di Pulau Sumatra yang menandatangani kerja sama ini. Ia pun mengapresiasi langkah Unsyiah yang telah membantu Pemerintah memasuki era baru pencatatan kependudukan.
“Saat ini, perkembangan teknologi Dukcapil memasuki era sharing. Data yang kita miliki dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa. Tentu dengan memperhatikan perundang-undangan. Data dapat digunakan, tapi tidak boleh disalahgunakan.” ujar Prof Zudan.
Ia menyebutkan salah satu masalah besar yang dihadapi Indonesia saat ini adalah pendataan. Dengan konsep big data yang tepat dan lengkap, maka setiap orang akan terdata dengan baik. Hal sama juga akan terjadi di Unsyiah jika mentransformasikan nomor identitas mahasiswa ke dalam NIK.