“Saya melihat Profesor di Unand banyak menulis tentang kebencanaan. Maka saya yakin, jika peneliti dari kedua perguruan tinggi ini berkolaborasi, hal tersebut akan meningkatkan publikasi kita dalam upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB),” ucap Rektor.
Selain itu, Rektor juga menyampaikan rasa terima kasih atas kontribusi Unand selama ini bagi kemajuan Unsyiah. Misalnya dalam upaya Unsyiah mendirikan Fakultas Kedokteran pada tahun 1982. Di mana sebelum itu yaitu tahun 1980 – 1981, Unsyiah mengirimkan sejumlah mahasiswanya untuk belajar ke Unand. Mereka disiapkan untuk menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Unsyiah.
Kontribusi penting lainnya adalah, saat Unsyiah berhasil meraih lompatan akreditas dari C ke A. Hal ini tidak lepas dari peran dari Unand yang telah terlebih dahulu meraih akreditasi A. Di mana kala itu Rektor Unsyiah secara khusus mengundang Prof Dr Werry Darta Taifur SE MA yang saat ini menjabat sebagai Ketua Senat Unand, untuk memberikan motivasi dan bimbingan bagi Unsyiah.
“Jadi kita ingin Unand dan Unsyiah terus menjalin komunikasi yang intens. Kalau tidak, maka kita akan terus berada di belakang Universitas lain di Pulau Jawa. Padahal dari segi SDM, kita sudah sangat baik,” ucap Rektor.
Sementara itu Prof Yuliandri menyambut baik sejumlah kesepakatan kerja sama dengan Unsyiah. Hal ini juga sejalan dengan semangat Kampus Merdeka yang digaungkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Di mana setiap perguruan tinggi tidak boleh berdiri sendiri, tapi harus berkolaborasi dengan perguruan tinggi lainnya untuk menguatkan institusinya.
Selama ini, ungkap Prof. Yuliandri, beberapa program studi maupun fakultas di Unand telah melakukan berbagai kerja sama secara langsung dengan Unsyiah.