Dalam kesempatan itu, Plt Sekda mengisahkan kondisi kejayaan kawasan transmigrasi di Aceh sekitar tahun 1970 an sebelum dilanda konflik. Salah satunya kawasan transmigrasi Jagong Jeget, di Aceh Tengah. Dulunya kawasan tersebut adalah hutan belantara yang dihuni oleh warga transmigrasi. Disitu, transmigran melakukan budidaya tanaman kopi.
Pada saat dilanda konflik masa itu, papar dia, penduduk setempat tetap berkomitmen untuk tinggal di kawasan tersebut. Hingga kini, kawasan transmigrasi tempo lalu itu telah menjadi ibu kota kecamatan yang maju. Di mana kawasan itu telah menjadi salah satu tempat produksi komoditas kopi Gayo. "Saya kira, banyak wilayah di Aceh ini yang berpotensi untuk pengembangan wilayah transmigrasi,"kata Helvizar.
Kendati demikian, kata Helvizar, saat konflik berlangsung di Aceh, banyak juga kawasan transmigrasi lainnya mulai redup. Hingga pasca perdamaian, kini Aceh kembali memulai pembangunan untuk mengejar ketertinggalan dengan daerah lain. Oleh karena itu, program pemerintah dalam mengembangkan kawasan transmigrasi di Aceh sangat disambut baik, guna memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Dirjen Pengembangan Kawasan Transmigrasi Muhammad Nurdin mengatakan kawasan transmigrasi ditargetkan dapat menjadi kawasan pertumbuhan baru. Di antaranya menjadi tempat pemasok sandang pangan dan SDM berkualitas untuk bekerja di pusat pertumbuhan industri maupun berbasis pangan.
Oleh sebab itu, pihaknya akan melakukan revitalisasi produksi di kawasan transmigrasi. Hal itu dilakukan dengan cara menyediakan sarana infrastruktur penunjang seperti embung, irigasi , serta membangun jembatan maupun jalan dari tempat produksi ketempat pemasaran.