Banda Aceh Disebut Kota dengan Nilai Toleransi Terendah, Dewan Berang

December 9, 2018 - 22:24
Perayaan Thaipusam Tamil di Banda Aceh | Antara
1 dari 3 halaman

HABADAILY.COM - Hasil riset terkait indeks kota toleran di Indonesia pada 2018 yang dirilis Setara Instute menuai kontroversi. Apalagi dalam riset lembaga yang didirikan Rocky Gerung cs ini menyebutkan Banda Aceh menempati kota paling tidak toleran kedua setelah Tanjung Balai, Sumatera Utara.

"Ini sangat aneh dan tidak masuk akal," kata Ketua Komisi D DPRK Banda Aceh, Sabri Badruddin kepada HABADAILY.COM, Minggu (09/12/2018).

Dia mengatakan Banda Aceh telah menjadi kota yang majemuk sejak dulu. Beragam etnis dan suku hidup berdampingan di kota yang menjadi pusat pemerintahan Aceh tersebut.

"Pada kenyataannya, sejak abad ke-17, kaum minoritas (etnis Tionghoa) telah datang ke Aceh. Begitu juga dengan etnis-etnis lainnya, dan sejak itu pula belum pernah tercatat dalam sejarah kaum minoritas terusik di Banda Aceh, belum pernah ada konflik horizontal antar umat beragama," kata Sabri lagi.

Sabri mengatakan umat minoritas bahkan bebas beribadah di Aceh dengan nyaman menurut agamanya masing-masing. Hal ini terlihat dengan berdirinya pura ummat Hindu, Klenteng, dan beberapa gereja di Kota Banda Aceh. Di kota paling ujung Pulau Sumatera ini juga didapati vihara yang menjadi tempat peribadatan bagi ummat Budha. 

"Meskipun di Banda Aceh menerapkan syariat Islam, tetapi masyarakat di Banda Aceh saling menghormati dan tidak saling mengusik," kata Sabri.

Pernyataan Sabri ini masuk akal. Lagipula, hampir setiap tahun peringatan hari besar Imlek dan Natal dirayakan dengan khidmat di ibukota Aceh. Perayaan dan peringatan hari-hari besar keagamaan tersebut hingga saat ini tidak pernah mendapat gangguan dari ummat mayoritas yang ada di Banda Aceh. 

Peringatan wafat Isa Almasih di Banda Aceh | Analisa Daily

Tentu saja kondisi di Banda Aceh jauh berbeda dengan kota lain di Indonesia. Ambon misalnya, yang menurut Setara Institute masuk dalam kota dengan indeks toleran tinggi. 

"Anehnya lagi dalam penilaian IKT tersebut telah menempatkan kota Ambon dan Kupang, masuk dalam 10 besar kota dengan toleransi yang tinggi. Padahal sejarah mencatat, kedua kota tersebut pernah terjadi konflik antar kelompok agama yang berbeda," ungkap Sabri.

Perayaan Imlek di Banda Aceh | Habadaily.com

Sabri meminta Setara Institute untuk menjelaskan indikator dan metode yang dipergunakan dalam riset tersebut. 

"Bila perlu, Setara Institute melakukan riset ulang. Karena riset ini jelas-jelas telah merugikan dan mendiskreditkan Kota Banda Aceh di mata masyarakat luar," kata Sabri.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.