Saat Salju Turun di Bosnia

November 25, 2018 - 23:46
Para migran di Bosnia/Aljazeera

HABADAILY.COM - Telepon rusak dan patah tulang merupakan risiko yang harus dihadapi para penyintas di Bosnia, saat mereka berupaya melintasi perbatasan ke Kroasia, anggota baru Uni Eropa. 

Di sebuah gudang kawasan kota Velika Kladusa, dekat perbatasan Kroasia, sebagian besar dari 200 orang yang tinggal di sini mencoba untuk memainkan sebuah "permainan", sebuah istilah yang banyak digunakan untuk upaya mencapai Eropa. Ini adalah permainan dengan taruhan tinggi, dan risiko itu juga diketahui oleh sekelompok orang Iran yang juga ada di sana.

Tujuh pria pulih dari pemukulan yang terjadi pada malam sebelumnya. Mereka mengatakan itu adalah ulah polisi Kroasia.

Mereka kemudian memperlihatkan handphone masing-masing, yang layarnya semuanya hancur. Seorang penyintas juga memperlihatkan tubuhnya yang terkena pukulan. "Sialan," kata Arash, salah seorang Iran yang lebih tua. Arash saat kejadian tidak bersama mereka yang menjadi korban pemukulan. Dia juga baru pertama kali melihat luka-luka seperti itu.

"Mereka ditempatkan di dalam satu mobil satu per satu dan kemudian dipukuli dengan keras. Mereka menggunakan tongkat untuk memukul. Mereka juga menendang dan meninju," kata Arash, menerjemahkan.

Farhad, seorang anggota kelompok Iran lainnya turut menerjemahkan, "Mereka berkata, 'Jika Anda kembali lagi, saya akan membunuh Anda'."

Kementerian Dalam Negeri Kroasia menepis aksi brutal yang dilakukan pihak kepolisian negara tersebut. 

Perwakilan dari Doctors Wothout Borders (dikenal dengan inisial Prancis, MSF) tidak dapat mengonfirmasi jika polisi Kroasia yang memukuli para pengungsi di perbatasan tersebut. Namun, kepada Aljazeera, mereka dapat memastikan jika luka tersebut merupakan bekas pukulan benda keras.

"Kami teliti melihat pasien dengan cidera bervariasi, dari cidera jaringan lunak hingga patah tulang yang ditimbulkan pasukan perbatasan Kroasia. Luka ini konsisten dengan pukulan benda tumpul pada bagian tubuh tertentu, mungkin saja luka-luka ini terjadi seperti cerita saksi dan pasien kami," kata Julian Koeberer, seorang relawan kemanusiaan MSF.

Tahun ini, gelombang pengungsi dan migran sering mendatangi dan melewati Bosnia. Menurut data UNHCR terdapat 7.600 kedatangan di Bosnia dan Herzegovina dari awal tahun hingga Juni 2018. Jumlah ini jauh lebih banyak jika dibandingkan tahun 2017 yang hanya mencapai 218 orang.

Pantauan di lokasi, terlihat sekitar 200 orang tinggal di sebuah lapangan di sisi tempat penampungan anjing.

Anjing liar dan anak anjing juga terlihat berkeliaran di sekitar lapangan. Beberapa orang mengatakan mereka terkadang kembali ke tenda dan menemukan seekor anjing ada di dalamnya.

"Itu karena kita seperti anjing, itulah yang mereka pikirkan," kata Dalir, seorang Pakistan.

Migran di Bosnia bertahan hidup dalam cuaca buruk/Aljazeera

Sebagian besar penyintas di sini terus memainkan "permainan" tersebut meski tak jarang mereka kalah. 

"Tiga kali kami dihalau oleh polisi, mereka memukuli kami dan merusak ponsel kami serta mengambil sedikit uang," kata Hussein, yang juga berasal dari Pakistan.

Memar dan pemukulan tidak akan menghalangi para migran ini. Mereka bahkan mengatakan akan kembali mencoba. "Mungkin besok".

Kondisi di lokasi begitu buruk. Namun, MSF terus bekerja di daerah tersebut dan mengobati para migran dengan klinik keliling. 

Dokter dan relawan mengatakan para migran kebanyakan terserang kudis dan digigit kutu karena kondisi hidup yang buruk di penampungan sementara tersebut. 

Tapi kekhawatiran yang paling besar para migran adalah cuaca. Musim dingin akan datang, suhu bahkan sudah turun di bawah nol derajat pada malam hari. Salju telah turun.

Penduduk setempat mengatakan suhu di lokasi mencapai 10 derajat Celcius. 

"Kondisi hidup bagi sebagian besar migran di Bosnia tetap mengerikan," kata Koeberer, salah seorang relawan MSF. "Sebagian besar pasien yang datang ke klinik keliling kami sering menderita penyakit kulit karena kebersihan yang buruk. Mereka juga terkena infeksi pernafasan karena cuaca dingin, dan tidak dapat pulih karena berada di dekat mereka yang terpapar."

"Selama minggu-minggu terakhir, tim kami sudah banyak mengobati pasien, tetapi dengan suhu yang segera turun di bawah lima derajat dan lebih dingin di malam hari...kami khawatir mereka terkena hipotemia dan radang yang parah. Sangat berisiko jika tidak disediakan tempat tinggal yang nyaman."

Salju yang turun sangat buruk bagi mereka yang tidur beralas tanah.

"Sekarang sudah nol derajat. Anda harus bergantung pada orang lain untuk memberikan makanan. Seperti yang Anda bayangkan, itu tidak baik untuk kesehatan mental Anda," kata Marc yang bekerja dengan No Name Kitchen. 

No Name Kitchen merupakan organisasi yang menyediakan kamar mandi bagi mereka yang menetap di ladang, di Velika Kladusa.

Dia mengatakan serangan terus menerus dari polisi Kroasia sangat berpengaruh terhadap para migran yang tinggal di sini. "Mungkin setengah dari waktu mereka dipukuli, uang mereka dicuri, telepon mereka dirusak."

DEKAT kota Bihac, yang juga daerah perbatasan Kroasia, terdapat sebuah asrama Borici yang sebelumnya ditinggalkan. Asrama ini dibangun lima puluhan tahun lalu dan dimaksudkan untuk anak yatim perang. Namun sekarang, sekitar 1.000 migran tinggal di sini.

Pria memasak chapati tanpa api. Menurut IOM, bangunan ini sedang dipersiapkan untuk musim dingin. Namun kondisi di dalamnya begitu suram.

Gelap dan sulit dilewati tanpa tersandung. Lebih terasa seperti kamp penghuni liar daripada fasilitas resmi.

"Orang-orang Bosnia itu baik ... tetapi kondisi kamp sangat buruk," kata Ali dari Pakistan.

Dia menunjuk ke gua gelap di bawah asrama untuk menunjukkan di mana dia tidur di malam hari. 

"Mereka tidak punya air untuk mencuci muka," katanya menceritakan tentang orang-orang yang tinggal di sana, "sangat dingin di sini."

Sebagian besar pria mengucapkan terima kasih kepada Bosnia dan polisi Bosnia yang sangat kontras dengan rekan-rekan Kroasia mereka di seberang perbatasan. 

Tapi salju dan patah tulang tidak akan menghalangi kebanyakan dari upaya mencari stabilitas keamanan dan ekonomi.

Faisal, yang berasal dari Pakistan dan tinggal di asrama, menggosok tangannya dan batuk di udara dingin. 

"Aku akan selalu mencoba menyeberang lagi," katanya.[]

Sumber: Aljazeera

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.