M. Syaugi melanjutkan, dari empat kapal tersebut hanya kapal yang memiliki alat remotely operated underwater vehicle (ROV) berhasil mendeteksi serpihan-serpihan pesawat. Sisanya, tidak berhasil.
"Kapal pertama kita cek ternyata yang kita temukan dibawa adalah kapal kayu yang terbalik. Kemudian ke kapal yang kedua, kita cek hasilnya rangka kapal.
Kapal ketiga, kita cek dengan alat tersebut panjangnya cukup panjang, 16 meter. Ternyata itu bubu," ucap dia.
"Kemudian kta datang ke kapal yang terakhir. Nah kapal yang terakhir disamping menggunakan dua alat tadi, kapal ini mempunyai remotely operated underwater vehicle (ROV). Dari alat ini kita bisa melihat ada serpihan-serpihan bagian kapal.
Selain serpihan, kapal tersebut juga berhasil mendeteksi sinyal 'ping'. "Kita juga menemukan ping locator. Jadi di black box itu ada ping yang bisa berbunyi kita berdua mendengarkan itu, tit tit tit, suara itu terdengar," papar dia.
Sayangnya, tim yang berada di kapal tersebut mengambil tindakan lebih banyak karena terkendala arus. Ditambah lagi, di titik itu terdapat pipa pengeboran milik PT Pertamina. Akibatnya kapal tidak dapat menurunkan jangkar untuk menstabilkan posisi.