HABADAILY.COM –Simeulue sebagai penghasil lobster bakal tinggal nama. Pasalnya, harga lobster sejak awal tahun 2018 mengalami pasang surut, sehingga nelayan pencari lobster kini beralih profesi mencari gurita yang harga jualnya terbilang menguntungkan.
Berkurangnya nelayan mencari lobster membuat pengusaha lobster tak lagi mendapat binatang laut berharga tersebut . Sehingga tidak ada lagi yang bisa dipelihara dan dijual ke pembeli bak ke luar maupuan dalam Kabupaten Simeulue.
"Sejak nelayan kita beralih mencari gurita, sehingga tidak ada lagi nelayan yang mencari lobster dan kini usaha lobster mengalami kelesuan drastis, sejak Februari 2018. Sangat dikhawatirkan usaha lobster di Simeulue bisa gulung tikar," kata Mahlil, salah seorang pelaku usaha lobster di Simeulue, kemarin.
Kata Mahlil, bakal gulung tikar usaha lobster di Pulau Simeulue, setelah para nelayan yang awalnya mencari lobster kini beralih mencari gurita yang memiliki nilai jual tinggi serta minimnya resiko dan bedaya tahan fisik ketika dijual kepada penampung gurita.
“Sedangkan mencari lobster kini sudah sangat beresiko karena harus menyelam di kedalaman laut hingga ratusan meter,” jelasnya.
Hal senada juga dijelaskan Aldas (34), salah seorang Manajer usaha penampungan, penangkaran lobster PT Pudjiastuti, salah satu sayap usaha hasil laut milik Menteri Susi yang ada di Kabupaten Simeulue, belum lama ini.
"Benar, saat ini kita sedang kesulitan untuk mendapatkan lobster karena para penyelam lobster beralih mencari gurita. Sekarang musim gurita, setelah itu mungkin masuk musim tripang, dan ini juga ada hikmahnya, supaya ada kesempatan lobster berkembang biak di laut," kata Aldas.
Kedua pelaku usaha lobster itu, menyebutkan biasanya dalam satu minggu mampu mengekspor lobster untuk memenuhi permintaan konsumen di luar daerah, sekitar 200 kilogram hingga 1 ton. Sekarang untuk satu bulan hanya mampu mengirim 150 kilogram.
Sedangkan persoalan harga pasar lokal berbagai jenis lobster masih stabil, mulai dari harga Rp 250.000 perkilogram hingga Rp 900.000, dan lobster yang paling murah, jenis lobster kipas dengan harga Rp 60.000 perkilogram, sedangkan harga diluar daerah menjadi lebih tinggi, terutama harga pasar di Jakarta, mencapai Rp 1.200.000 perkilogram terutama lobster jenis mutiara.
Mahlil dan Aldas menerangkan, para pencari lobster beralih mencari gurita karena harga pasar lokal di Kabupaten Simeulue membelinya Rp 40.000 perkilogram hingga Rp 60.000 perkilogram. Tingkat kesulitan pencarian gurita juga sangat minim serta biaya operasional juga tidak mahal. Dalam satu hari rata-rata para pencari gurita mampu mendapatkan lebih dari 3 kilogram gurita.
Operasi untuk mencari gurita hanya membutuhkan perahu, alat pancing, alat selam serta alat pendingin, dan gurita hidup dilaut yang memiliki karang mulai dari kedalam kurang satu meter hingga ratusan meter, serta gurita memiliki daya tahan tubuh setelah di darat dan saat dijual kepada penampung tidak banyak persyaratan yang rumit.
Sedangkan penanganan lobster lebih khusus, setelah ditangkap dari laut harus dalam kondisi hidup serta harus dirawat dengan super ekstra ketat. Abila terjadi sedikit kesalahan atau terjadi cacat pada fisik lobster, mempengaruhi harga saat dijual kepada penampung. [jp]