HABADAILY.COM - Tentara Belanda menyerang sejumlah petani yang sedang mengarap sawah. Jerit histeris wanita yang sedang bekerja, sembari meminta tolong dan mengumandang takbir. Sedangkan tentara Belanda itu terus saja memukul dan merampas peralataran kerja mereka.
Peperangan pun terjadi, sejumlah pasukan di kedua belah pihak berguguran. Salah satunya adalah Tengku Umar, suami Cut Nyak Dhien. Sejak itulah, gendang perang Cut Nyak ditabuh menyambung perjuangan Tengku Umar yang telah gugur di medan perang.
Cut Nyak panggilan Cut Nyak Dhien pun mengambil alih penglima perang. Cut Nyak memanggil seluruh pasukannya dan memerintahkan untuk melawan penjajah Belanda. “Panggil semua pasukan kita, mulai sekarang kita harus menyambung perjuangan Tgk Umar yang telah syahid,” perintah Cut Nyak Dhien kepada seluruh pasukannya.
Perang pun dimulai. Kedua belah pihak saling serang dan satu persatu pasukan Cut Nyak berguguran. Cut Nyak pun makin hari semakin lemah dan sakit-sakitan. Ia bahkan tidak mampu lagi berjalan dan matanya tak lagi bisa melihat. Namun semangat juangnya melawan penjajah masih terus berkobar.
Pengkhiatanan pun terjadi. Pang Laot melaporkan keberadaan Cut Nyak dan memberitahukan sedang dalam kondisi sakit-sakitan kepada colonial Belanda. Kolonial Belanda pun mengatur siasat untuk menjemput Cut Nyak di tempat persembunyiaannya.