Drama Kolosal Perjuangan Cut Nyak Dhien Meriahkan HUT TNI

October 5, 2016 - 12:51
Suasana HUT TNI 2016 di Banda Aceh, Rabu (05/10/2016) | Afifuddin Acal | Habadaily.com

HABADAILY.COM - Tentara Belanda menyerang sejumlah petani yang sedang mengarap sawah. Jerit histeris wanita yang sedang bekerja, sembari meminta tolong dan mengumandang takbir. Sedangkan tentara Belanda itu terus saja memukul dan merampas peralataran kerja mereka. 

Peperangan pun terjadi, sejumlah pasukan di kedua belah pihak berguguran. Salah satunya adalah Tengku Umar, suami Cut Nyak Dhien. Sejak itulah, gendang perang Cut Nyak ditabuh menyambung perjuangan Tengku Umar yang telah gugur di medan perang.

Cut Nyak panggilan Cut Nyak Dhien pun mengambil alih penglima perang. Cut Nyak memanggil seluruh pasukannya dan memerintahkan untuk melawan penjajah Belanda. “Panggil semua pasukan kita, mulai sekarang kita harus menyambung perjuangan Tgk Umar yang telah syahid,” perintah Cut Nyak Dhien kepada seluruh pasukannya.

Perang pun dimulai. Kedua belah pihak saling serang dan satu persatu pasukan Cut Nyak berguguran. Cut Nyak pun makin hari semakin lemah dan sakit-sakitan. Ia bahkan tidak mampu lagi berjalan dan matanya tak lagi bisa melihat. Namun semangat juangnya melawan penjajah masih terus berkobar.

Pengkhiatanan pun terjadi. Pang Laot melaporkan keberadaan Cut Nyak dan memberitahukan sedang dalam kondisi sakit-sakitan kepada colonial Belanda. Kolonial Belanda pun mengatur siasat untuk menjemput Cut Nyak di tempat persembunyiaannya.

Pengkhiatannya itu akhirnya sampai juga ke telinga panglima perang perempuan Aceh itu. Cut Nyak marah besar, bahkan melalui mulutnya sendiri melontarkan kalimat pengkhiatan. “Ya Allah, masih ada yang berkhianat. Pangkhianat kamu Pang Laot,” teriaknya.

Akhirnya, Cut Nyak berhasil dijemput oleh pasukan colonial Belanda. Saat hendak ditangkap oleh pasukan Belanda. Cut Nyak sempat bertemu dengan Pang Laot. Saat itu, berkali-kali Cut Nyak menyebutnya pengkhiatan. Nyaris saja rencong di tangan Cut Nyak menghunus perut Pang Laot.

“Jangan salah paham Cut Nyak. Cut Nyak sakit-sakitan, butuh tempat untuk berobat,” kata Pang Laot saat Belanda hendak membawa Cut Nyak.

Ternyata, kesepakatan antara Pang Laot dengan kolonial Belanda agar Cut Nyak tidak dipisahkan dengan rakyat Aceh dikhianati oleh Balanda. Cut Nyak akhirnya dibuang dari Aceh dan dikuburkan di Sumedang, Jawa Tengah.

Cuplikan di atas adalah pementasan terbuka drama kolosal mengisahkan perjuangan pahlawan nasional Aceh, Cut Nyak Dhien mengangkat senjata untuk melawan kolonial Belanda di Lapangan Blang Padag, Banda Aceh, Rabu (05/10/2016).

Drama ini tampil dalam rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke 71. Meskipun diguyur hujan sejak pagi, pementasan perayaan HUT TNI tetap berjalan khitmad. Bahkan ratusan warga tetap tidak beranjak, meskipun hujan terus mengguyur Banda Aceh.

“Ini drama adalah untuk mengenang kembali semangat perjuangan pahlawan nasional kita masa lalu dalam merebut kemerdekaan,” kata ketua panitia HUT TNI, Kolonel Dany Budiyanto usai upacara HUT TNI.

Katanya, dengan adanya drama kolosal perjuangan ini, bisa membangkitkan semangat juang generasi muda untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). [jp]

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.