Motif Sulubayung: Jejak Awan yang Menyatukan Identitas Aceh Barat

April 21, 2026 - 16:00
Motif Sulubayung: Jejak Awan yang Menyatukan Identitas Aceh Barat. (FOTO: Screenshot YouTube I Budaya Aceh Barat)

HABADAILY.COM - Di balik kilau benang emas pada kerajinan kasab Aceh Barat, tersimpan satu motif yang tak sekadar indah, tetapi juga sarat makna. Motif tersebut adalah Sulubayung, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Awan Sie Oen.

Motif ini bukan hanya sekadar ornamen, melainkan narasi panjang tentang hubungan manusia dengan alam dan kehidupan sosial masyarakat Aceh Barat. Lahir dari inspirasi alam, Sulubayung memadukan lengkung awan dan bentuk pakis yang saling terhubung.

Dalam filosofi lokal, bentuk tersebut melambangkan kebersamaan, kehalusan budi pekerti, serta semangat gotong royong yang menjadi identitas kolektif.

Pada kerajinan kasab, seni sulam benang emas khas Aceh, Sulubayung tampil sebagai elemen utama. Motif ini menghiasi berbagai benda peninggalan adat, mulai dari pelaminan, busana tradisional, hingga ornamen rumah. Keberadaannya pun menjadi simbol keanggunan sekaligus status budaya yang diwariskan melintasi generasi.

Menilik sejarahnya, motif ini awalnya digunakan sebagai hiasan ukiran kayu pada rumah tradisional di Aceh Barat. Seiring berjalannya waktu, penggunaannya terus dikembangkan hingga merambah ke pakaian adat, seperti pada celana adat wanita dan hiasan bros untuk baju adat pria.

Agam Inong Aceh Barat 2024. (FOTO: Screenshot YouTube I Budaya Aceh Barat)

Kini, pengakuan terhadap nilai budaya Sulubayung semakin menguat. Motif ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 10 Oktober 2025 lalu.

Pengakuan WBTB merupakan bentuk perlindungan negara terhadap budaya yang telah hidup lebih dari dua generasi dan memiliki nilai penting bagi masyarakat.

Hal ini menjadikan Sulubayung bukan hanya sebagai kebanggaan, melainkan juga hak cipta kultural Aceh Barat yang patut dijaga dan dilestarikan.

Inong Aceh Barat 2024, Puja Rahma Kusumaningrum, turut memberikan pandangannya. Ia menyebut Sulubayung sebagai identitas visual yang harus terus dihidupkan, terutama di tengah arus modernisasi di mana peran generasi muda menjadi sangat krusial.

“Sulubayung adalah bahasa budaya. Kalau generasi muda tidak memahami maknanya, kita hanya akan mewarisi bentuk tanpa jiwa,” kata Puja kepada Habadaily.com, Selasa (21/04/2026).

Juara 2 Agam Inong Aceh 2024 ini, juga menekankan pentingnya inovasi tanpa meninggalkan nilai dasar budaya. Menurutnya, mengaplikasikan motif Sulubayung pada produk modern seperti tas, busana kasual, hingga dekorasi interior adalah langkah strategis untuk memperluas eksistensinya.

"Tentu, Agam Inong Aceh yang berasal dari Aceh Barat akan terus melakukan langkah-langkah efektif dalam menyebarluaskan jejak awan yang menyatukan identitas daerah ini. Sebagai Duta Wisata, kami terus memperkenalkan dan mempromosikannya. Saat PON kemarin, misalnya, kami memperkenalkan motif ini kepada masyarakat dan para pendatang. Kami juga gencar memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan Sulubayung ke khalayak ramai," ujarnya.

Motif Sulubayung: Jejak Awan yang Menyatukan Identitas Aceh Barat. (HO I Duta Wisata Aceh Berat 2024).

Pandangan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah dan para pegiat budaya. Kartika Eka Sari dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Barat menyebutkan bahwa revitalisasi motif ini terus dilakukan, salah satunya melalui penelitian dan pelatihan secara langsung kepada para pengrajin.

Saat ini, Sulubayung semakin banyak digunakan dan diproduksi oleh pengrajin kasab di daerah Samatiga, Aceh Barat, di bawah binaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Motif ini bahkan mulai merambah tren fesyen modern berkat kreativitas para perajin lokal.

Sementara itu, para pengrajin kasab di Kecamatan Samatiga dan Johan Pahlawan tetap menjadi garda terdepan dalam upaya pelestarian. Mereka tidak sekadar memproduksi karya untuk dijual, tetapi juga berdedikasi menjaga teknik, filosofi, dan nilai estetika yang terkandung di dalamnya.

Hari ini, Sulubayung bukan lagi sekadar motif peninggalan masa lalu, melainkan telah bertransformasi menjadi simbol kebangkitan identitas lokal.

Dalam setiap jahitan kasabnya, tersimpan pesan tegas: budaya bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk terus dihidupkan.

Editor: Suryadi

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.