HABADAILY.COM - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh masih menyisakan persoalan serius bagi warga terdampak, terutama terkait pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).
Di Kabupaten Bireuen, keterbatasan akses air bersih masih dirasakan oleh warga yang bertahan di lokasi pengungsian maupun yang mulai kembali ke rumah masing-masing.
Salah satu titik pengungsian berada di Desa Kubu, Kecamatan Peusangan. Di lokasi ini, sebagian warga masih menggantungkan kebutuhan air bersih dari bantuan kemanusiaan, karena sumber air warga terdampak banjir belum dapat digunakan secara layak.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Yayasan Perempuan dan Anak Negeri (YPANBA) bersama Jejaring Masyarakat Kemanusiaan (JMK), dengan dukungan Penabulu Foundation, memasang satu unit skyhydrant (pemurnian air) guna menyediakan akses air bersih yang aman dan layak konsumsi.
Fasilitas skyhydrant tersebut dipasang di area pengungsian utama Meunasah Kubu dan kini dimanfaatkan oleh warga yang masih mengungsi, serta sebagian warga yang telah kembali ke rumah.
Ketua YPANBA, Ruwaida, menegaskan bahwa ketersediaan air bersih dan sanitasi merupakan kebutuhan mendesak dalam situasi pascabencana.
“Ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak sangat penting, terutama untuk perempuan, anak-anak, lansia, dan kelompok dengan risiko tinggi lainnya. Kami berupaya memastikan distribusi air bersih berjalan lancar setiap hari, sekaligus memastikan adanya ruang aman bagi mereka dalam situasi tanggap darurat yang masih diperpanjang ke depan,” ujar Ruwaida.
Relawan JMK, Olan Alfian, menjelaskan bahwa instalasi skyhydrant yang dipasang dilengkapi dengan tiga tap stand dan dapat langsung digunakan warga untuk kebutuhan air minum.
Selain pemasangan, relawan juga memberikan edukasi kepada warga pengungsi terkait penggunaan air bersih, serta kepada aparatur gampong sebagai penanggung jawab pemantauan kualitas air.
“Skyhydrant ini sifatnya sementara, berupa peminjaman, dan diharapkan bisa mendukung kebutuhan air bersih warga hingga tiga bulan ke depan. Harapannya, pemerintah setempat bisa segera memenuhi kebutuhan air bersih secara permanen, apalagi kita akan segera memasuki bulan Ramadhan,” kata Olan.
Selain instalasi air bersih, sejumlah peralatan pendukung perawatan kualitas air juga telah diserahkan di lokasi pengungsian.
Namun demikian, fasilitas MCK di rumah-rumah warga masih belum sepenuhnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada kesehatan warga jika tidak segera ditangani.
Staf YPANBA, Desy, berharap ada dukungan lanjutan dari berbagai pihak untuk pemenuhan fasilitas sanitasi yang layak bagi warga terdampak banjir.
“Fasilitas MCK di rumah-rumah warga masih belum siap. Kami berharap ada pihak-pihak lain yang dapat membantu agar kebutuhan dasar warga bisa terpenuhi secara lebih menyeluruh,” ujarnya.
Hingga kini, banjir di Aceh masih menyisakan pekerjaan rumah besar dalam fase pemulihan, khususnya dalam memastikan akses air bersih dan sanitasi yang aman bagi warga terdampak di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Bireuen. []