HABADAILY.COM - Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Aceh, bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi internasional melaksanakan kegiatan trauma healing bagi anak-anak pengungsi di Desa Riseh Tunong, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.
Kegiatan yang berlangsung pada 17–18 Januari 2026 ini melibatkan kolaborasi strategis dengan perguruan tinggi ternama dari Malaysia dan Thailand.
Direktur Kerja Sama dan Internasionalisasi UBBG, Regina Rahmi, mengaku, pengabdian masyarakat ini melibatkan dosen dan mahasiswa dari University of Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia, dan Fatoni University (Thailand).
"Turut hadir Assoc. Prof. Dr. Hutkemri (University of Malaya), Assoc. Prof. Dr. Roslinda Rosli (Universiti Kebangsaan Malaysia), dan Dr. Ilham Chenu (Fatoni University)," kata Regina Rahmi, Senin (19/01/2026).
Regina mengaku, tim gabungan menerapkan metode pendekatan psikososial untuk memulihkan kondisi emosional anak-anak yang terdampak bencana. Seperti, Permainan Interaktif yang dirancang untuk mengurangi kecemasan dan mengembalikan keceriaan anak.
"Kami juga melakukan, Edukasi Sanitasi Dasar dengan Sosialisasi pola hidup bersih dan sehat (PHBS) agar para pengungsi terhindar dari penyakit selama berada di lingkungan darurat," akunya.
Sementara itu, Keuchik Gampong Riseh Tunong, Abdurrahman, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut.
"Kehadiran dosen dan mahasiswa dari dalam dan luar negeri ini memberikan manfaat nyata bagi anak-anak kami yang sangat membutuhkan pendampingan pascabencana," ungkap Abdurrahman.

Komitmen Internasionalisasi UBBG
Rektor UBBG, Prof. Dr. Lili Kasmini, menyampaikan apresiasi mendalam atas keberhasilan aksi kolaboratif ini. Menurutnya, inisiatif ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan bukti nyata peran UBBG di level internasional dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
"Dengan suksesnya kegiatan ini, UBBG mempertegas posisinya sebagai institusi pendidikan yang responsif terhadap isu-isu kemanusiaan dan konsisten dalam menjalankan pengabdian masyarakat yang berdampak luas," demikian Prof. Lili Kasmini.