HABADAILY.COM - "Terima kasih, Kak. Terima kasih, Ibu." Kalimat sederhana itu terus terucap dari bibir mungil anak-anak korban banjir bandang yang meluluhlantakkan Aceh pada 26 November 2025 lalu. Meski rumah mereka kini hanya menyisakan puing dan lumpur, senyum ketabahan tetap terpancar di wajah mereka.
Kata-kata penuh syukur tersebut kerap terdengar di sepanjang jalan setiap kali dermawan maupun relawan datang membagikan sedikit rezeki. Di sela-sela aktivitas membersihkan lumpur dan kayu yang menimbun halaman rumah mereka, warga tetap menyempatkan diri menyapa para relawan dengan penuh keramahan.
Pada 19 Desember 2025, keluarga besar Habadaily.com menempuh perjalanan dari Banda Aceh menuju Medan. Setibanya di wilayah Pidie Jaya, suasana di dalam mobil yang semula riuh dengan diskusi tentang "tsunami gunung" seketika berubah menjadi hening.
Pemandangan di luar jendela sungguh memilukan. Sawah sawah yang dulunya hijau kini berubah menjadi lapangan lumpur yang gersang. Rumah warga ada yang hilang tersapu arus, dan tak sedikit yang hanya menyisakan bagian atap karena seluruh badannya telah tertimbun material banjir.
Tim melaju perlahan, melewati satu per satu titik pengungsian dan rumah rumah yang hancur diterpa bongkahan kayu besar. Saat tim memanggil anak-anak yang kaki dan tangannya dipenuhi lumpur untuk membagikan bantuan kecil, tangis haru tak terbendung.
"Maaf ya dek, ini sedikit dari kami," ucap salah satu anggota tim. Jawaban jujur "Terima kasih, Kak" dari anak-anak tersebut membuat air mata menetes. Tim terdiam, hanya bisa berkomunikasi lewat isak tangis yang tertahan.
Perjalanan berlanjut dari Pidie Jaya menuju Kabupaten Bireuen. Kerusakan di sana sama dengan Pidie Jaya, rumah rumah warga hancur berantakan. Saat mencoba melintasi Jembatan Awe Geutah, tim harus bersabar mengantre selama 6,5 jam untuk bisa menyeberang melalui jembatan darurat (Medley) yang baru saja dibuka aksesnya.
Malam itu, tim bermalam di Kuta Blang, Bireuen, hanya berjarak sekitar 50 meter dari hulu sungai di dekat Jembatan Krueng Tingkeum yang putus.
Keesokan harinya, aktivitas penyaluran bantuan dilanjutkan ke Pante Lhong, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen. Di sini, potret kehancuran terlihat nyata, sawah yang rata dengan tanah dan hulu sungai yang melebar drastis.
Namun, di dekat tenda pengungsian, puluhan anak-anak tampak sedang bermain bola dengan riang. Saat tim membagikan bantuan, sekali lagi ucapan "Terima kasih, Kak, Ibu" menggema. Mereka tetap tersenyum meskipun "istana" tempat mereka bernaung kini telah tiada.
Bagi keluarga besar Habadaily.com, hari itu menjadi momen yang sangat istimewa. Bisa berbagi sedikit kebahagiaan dengan saudara-saudara di Tanah Indatu yang sedang diuji kesabarannya adalah sebuah kehormatan yang tak ternilai harganya.