Pengakuan Faisal, Penjual Bakso di Aceh Tamiang Dengar Tangisan Bayi di Tengah Gelap Gulita Banjir Bandang

December 25, 2025 - 17:16
Korban banjir bandang di Aceh Tamiang. M Faisal. (FOTO: Suryadi KTB I HABADAILY.COM)

“Sekitar jam 12 malam lewat, suasana gelap gulita. Kami mendengar suara jeritan minta tolong dan tangisan bayi di kejauhan”

HABADAIY.COM - Tragedi banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, pada 27 November 2025 lalu, masih menyisakan luka mendalam bagi para korban. Di balik dahsyatnya terjangan air setinggi 8 meter tersebut, terselip kisah heroik dari seorang penjual bakso keliling bernama Muhammad Faisal (27).

Satu hari sebelum bencana menghantam, Faisal sempat merasakan "angin segar" bagi usahanya. Saat hujan mulai mengguyur, ia melihat peluang untuk menjajakan bakso hangatnya.

Harapannya terwujud, jika biasanya ia hanya membawa pulang Rp100 ribu, hari itu omzetnya melonjak hingga Rp350 ribu.

Namun, rezeki itu tak bertahan lama. Kegembiraannya berganti menjadi perjuangan hidup mati ketika air bah tiba tiba datang menerjang.

"Saat itu saya sedang berjualan di sekitar SD Muara Jaya. Air dengan cepat menutupi motor becak saya. Di situ saya sadar, ini sudah tidak benar. Air akan terus meninggi," cerita Faisal kepada Habadaily.com, Kamis (25/12/2025) di Aceh Tamiang.

Meski dalam kondisi panik, Faisal tidak hanya memikirkan keselamatannya sendiri. Ia bergerak cepat menyelamatkan istri, mertua, dan keponakannya. Tak hanya keluarga, Faisal juga mengevakuasi ibu menyusui, bayi, dan lansia di sekitar lokasi.

Total ada 13 orang yang berhasil ia arahkan ke sebuah rumah warga berlantai dua yang masih kokoh. Di sana, mereka terjebak selama enam hari enam malam.

"Alhamdulillah, pemilik rumah sangat baik. Kami diberi tumpangan dan berbagi stok makanan seperti beras, mie instan, dan telur untuk bertahan hidup," ujarnya.

Faisal menceritakan betapa mencekamnya suasana malam itu. Dari lantai dua, ia melihat warga lain berjuang menyelamatkan diri dengan batang pisang atau jerigen di tengah arus yang membawa bongkahan kayu besar.

"Sekitar jam 12 malam lewat, suasana gelap gulita. Kami mendengar suara jeritan minta tolong dan tangisan bayi di kejauhan. Saya ingin mencari sumber suara itu, tapi ditahan oleh pengungsi lain karena arus terlalu berbahaya. Itu sangat mengerikan," ungkap Faisal dengan suara bergetar.

Pasca banjir surut, Faisal mendapati kenyataan pahit. Seluruh hartanya, mulai dari rumah mertua, gerobak bakso, hingga alat masak habis tersapu banjir. Ia benar benar harus memulai hidup dari titik nol.

Sempat pulang ke rumah orang tuanya di Gampong Paya Demam, Lhok Nibong, hatinya justru merasa terpanggil untuk kembali ke Aceh Tamiang demi membantu korban lainnya.

Kini, bencana dashat itu telah usai. Namun, demi menyambung hidup, kini Faisal bekerja sebagai relawan bongkar muat logistik bantuan di Aceh Tamiang.

Korban banjir bandang di Aceh Tamiang. M Faisal. (FOTO: Suryadi KTB I HABADAILY.COM)

"Kadang saya diberi makan, kadang ada yang memberi Rp20 ribu. Dengan itulah kami bertahan hidup saat ini," ujarnya.

Di akhir percakapan, Faisal menyelipkan sebuah harapan sederhana agar ia bisa kembali mandiri dan mencari nafkah bagi keluarganya.

Faisal sangat berharap adanya bantuan becak motor dan alat masak bakso agar bisa kembali berjualan.

"Semoga Allah SWT memberikan jalan melalui tangan hamba-Nya yang dermawan," harap Faisal.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.