Sementara itu, Maulana Aditya, mentor Tuli dari Surabaya dalam sesi refleksi di akhir workshop menekankan pentingnya advokasi dari dalam komunitas itu sendiri.
“Advokasi bukan hanya soal berbicara kepada pemerintah, tapi juga memperkuat posisi Tuli sebagai pengajar, pemimpin, dan pembela haknya sendiri. Peran teman dengar sebagai Deaf Ally sangat penting dalam proses ini, tetapi harus dalam posisi setara, bukan dari atas,” kata Aditya.
Penyelenggara berharap agar pemerintah daerah turut mendorong akses formal terhadap BISINDO di sekolah, layanan publik, dan dunia kerja.
Hal itu merupakan langkah awal menuju inklusi disabilitas bagi komunitas Tuli, yaitu memastikan keterlibatan penuh Tuli dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat. []