Workshop kemudian dilanjutkan dengan Kelas BISINDO Dasar yang dibawakan oleh Rikal bersama M Irham. Meskipun ini merupakan pengalaman pertama bagi banyak peserta, antusiasme mereka sangat tinggi.
“Kami masih kaku karena ini pertama kali berbahasa dengan gerakan dan ekspresi, tapi sangat seru,” ujar salah satu peserta.
Febriana Ramadhani, Juru Bahasa Isyarat (JBI) dalam kegiatan ini, juga merefleksikan peran JBI yang sering disalahpahami. “JBI bukan pendamping pribadi Tuli. Ketika orang dengar berbicara hanya kepada JBI dan mengabaikan Tuli, itu justru mengeksklusi mereka dari komunikasi,” jelasnya.
Minimnya akses terhadap Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) serta masih kuatnya stigma terhadap komunitas Tuli menjadi hambatan besar dalam pemenuhan hak dasar Tuli di Aceh. Kondisi ini diperburuk oleh keterbatasan akses pendidikan dan informasi bagi penyandang disabilitas, termasuk Tuli, yang masih tertinggal dibandingkan wilayah lain seperti Pulau Jawa.
Dian Agustin dari Buddies for Inclusion menyatakan bahwa dalam jangka panjang, situasi ini berdampak langsung pada akses terhadap lapangan pekerjaan.
Laporan dari Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (GERKATIN) Aceh menyebutkan bahwa lebih dari 90 persen Tuli di Aceh belum bekerja di sektor formal. Sementara itu, akses terhadap pekerjaan di sektor informal pun masih sangat terbatas.