Janda Eks GAM di Gandapura Harapkan Bantuan Rumah Layak Huni

January 24, 2025 - 09:33
Kondisi tempat tinggal Rakhmawati (42), janda eks GAM bersama putrinya yang memprihatinkan di Lingka Kuta, Kecamatan Gandapura, Bireuen. [HABADAILY.COM/ADI SALEUM}

HABADAILY.COM—Rakhmawati (42), janda eks GAM di Lingka Kuta, Kecamatan Gandapura, Bireuen, mengharapkan bantuan rumah layak huni dari pemerintah. Ia bersama putrinya, Aida Assyifa Naila (10), hingga kini masih mendiami gubuk berdinding anyaman bambu dan berlantaikan tanah.

“Kami telah lama memimpikan rumah layak huni, namun sampai sekarang belum terwujud,” tutur Rakhmawati kepada media ini, Kamis (23/1/2025).

Baca Juga: Potret Buram Keluarga Eks GAM yang Didera Kemiskinan Ekstrem

Janda dari Almarhum M Amin, eks GAM di Gandapura, ini mengisahkan, suaminya meninggal dunia pada 2015. “Saat itu, putri kami baru berusia sekira sebulan. Saya harus berjuang sendirian menghidupi Aida hingga sudah berumur 10 tahun sekarang ini,” ungkapnya.

Sejak suaminya meninggal, sebut Rakhmawati, kehidupan yang serba kekurangan harus dilaluinya dengan lapang dada. “Jangankan untuk membangun rumah layak huni, untuk makan sehari-sehari saja sering tidak tercykupi,” ujarnya.

Sebagai janda, Rakhmawati harus menjadi tulang punggung keluarga demi mencari sesuap nasi untuk anaknya. “Terlebih saat Aida sudah masuk sekolah, saya juga harus memenuhi kebutuhan pendidikannya,” katanya.

Saat ini Rakhmawati dan putrinya sangat mengharapkan perhatian dari Pemerintah Aceh maupun Pemkab Bireuen untuk bisa mendapatkan bantuan rumah layak huni. Sebab, kondisi rumah yang mereka tempati saat ini sudah sangat memprihatinkan. Dindingnya dari anyaman bambu dan baliho bekas, lantainya tanah, dan tidak memiliki kamar. 

“Setiap tahun saya lihat ada saja bantuan rumah layak huni dari pemerintah, tapi kenapa orang miskin seperti kami tidak mendapatkan bantuan tersebut?” tuturnya mempertanyakan.

lwan Setiawan, pemuda Lingka Kuta, mengaku prihatin dengan kehidupan yang harus dijalani Rakhmawati dalam menghidupi putrinya. “Mereka sudah lama tinggal di gubuk reyot, seharusnya pemerintah memprioritaskan bantuan rumah layak huni untuk anak yatim dan fakir miskin seperti keluarga Rakhmawati. Tapi justru kita lihat sekarang ini orang-orang mampu yang mendapat rumah layak huni tersebut,” katanya.

Iwan sangat mengharapkan pihak terkait untuk mengawasi secara ketat proses penyaluran bantuan rumah layak huni agar tepat sasaran. “Jangan sampai diperjualbelikan, sehingga yang selayaknya menerima justru tidak tersentuh bantuan tersebut,” katanya.

Abdul Hadi, Pj Keuchik Lingka Kuta, mengakui keluarga Rakhmawati hingga sekarang masih tinggal di rumah tak layak huni yang butuh perhatian semua pihak. “Sebagai seorang janda, ia juga harus pontang-panting menghidupi putrinya yang masih usia sekolah,” ujar Pj Keuchik Lingka Kuta yang baru menjabat sekira 3 bulan ini.

Mengenai bantuan rumah layak huni untuk keluarga itu, kata dia, pihaknya akan musyawarahkan terlebih dahulu dengan perangkat  gampong dan tokoh masyarakat setempat. “Kalau memungkinkan, akan diupayakan dengan menggunakan anggaran gampong,” imbuh Abdul Hadi.

Ditemui terpisah, Mahyu Danil alias Mahyu Batee Kureng mengatakan seharusnya sudah tidak ada lagi eks GAM atau janda mantan GAM yang tinggal di gubuk reyot di usia perdamaian Aceh yang sudah 20 tahun. “Tapi banyak bantuan rumah dari pemerintah yang disalahgunakan, makanya muncul ketimpangan seperti sekarang ini,” sebut eks kombatan GAM ini.

Karena itu, Mahyu meminta penegak hukum serius menindaklanjuti dugaan penyimpangan pada program bantuan rumah untuk fakir miskin. “Tindak tegas siapa saja yang ikut ‘bermain’ dalam proses penyaluran bantuan rumah layak huni, termasuk oknum eks GAM atau oknum aparat,” tegasnya.

Mahyu menyarankan ketika survei calon penerima bantuan rumah layak huni harus melibatkan Bhabinkamtibmas dan Babinsa, karena mereka lebih tahu kondisi dan keadaan warga di gampong-gampong. “Jika tidak dilibatkan Bhabinkamtibmas dan Babinsa, maka oknum-oknum pungli bantuan rumah terus merajalela, sehingga sampai kapan pun bantuan tersebut tidak tepat sasaran,” katanya.[]

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.